Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Thursday, March 24, 2016

Sekolah Swasta, Hanya Tersisa SMK Kosgoro



Perlu Regulasi yang Berkeadilan
Pasca dibukanya kran kebebesan diikuti program pendidikan gratis bagi sekolah negeri tingkat SMA/SMK sederajat, tak hayal membuat eksistensi sekolah swasta di Kota Solok kian berada diujung tanduk. Salah-satunya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kosgoro, yang sebelumnya tercatat sebagai salah-satu sekolah swasta favorit/ terbesar di Solok, kini malah ngos-ngosan bertahan hidup. Kedepan, diharapkan segera terlahir sebuah terobosan dan regulasi secara tepat, berkeadilan.

laporan— Solok

Saking beratnya tantangan, saat ini jumlah siswa SMK Korgoro  secara keseluruhan mulai dari kelas X - XII dilaporkan hanya tinggal tersisa sekitar 100 orang, dan  itupun kebanyakan berasal dari luar daerah pula. Akibatnya, sekolah kejuruan kelompok bisnis managemen yang beroperasi di komplek kampus, kawasan Kotopanjang, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, kondisinya kian mencemaskan, puluhan ruang belajar kosong. 

Kondiisi miris tersebut sudah mulai bergulir semenjak tahun 2005 silam, dimana saat itu seluruh sekolah lanjutan menengah atas (SMA/SMK) sederajat secara serentak membuka kran kebebasan dalam merekrut calon siswa baru. Namun untuk terkesan professional, seluruh sekolah menerapkan sistem penerimaan online (PSB), jalur tes, seleksi,  sebagaimana telah digariskan secara nasional.    

Namun nyatanya,  dibalik terapan sistem PSB online diam-diam tetap membonceng  banyak kepentingan, hingga berjibun calon siswa baru kurang kompeten pun dipaksakan tetap bisa lulus di sekolah yang diinginkan.  Paling tidak, dikondisikan pihak sekolah nimbrung dibangku cadangan, naik di jalan, dan lain sebagainya.        

“Soal kondisi sekarang SMK Kosgoro Solok, masyarakat dapat melihat sendiri bagaimana keadaannya. Penyebabnya, sudah komplikasi, meski kami selaku pihak pengelola sudah berupaya mati-matian mengoperasikan sekolah ini,” tukas Kepala SMK Kosgoro Solok, Anna Zurza, baru-baru ini.

Lebih parah lagi, SMK Wiyata Mandala (kelompok bisnis managemen),  di kelurahan tanah Garam, telah lebih dua tahun terpaksa menjemput ajal gara-gara sekolah itu tak punya siswa baru. Begitupun SMA PGRI, STM Korgoro, STM Kharima, aktivitasnya resmi ditutup. 

Ketua Aliansi Indonesia (AI) Perwakilan Solok, Syofinal Tanjung, menilai, fenomena ini perlu segera disikapi oleh Pemerintah Kota Solok, bagaimana agar sistem pendidikan dapat terselenggara tanpa tumpang tindih, berkeadilan. Seperti misalnya sekolah swasta yang seyogyanya dikelola oleh yayasan, tetap harus diperhitungkan sebagai lembaga pendidikan formal. Jangan dianaktirikan, hingga proses perkembangannya dibiarkan begitu saja.

Sebab Kota Solok termasuk salah-satu daerah yang didentik sebagai kota pendidikan, plus didukung dengan tersedianya lima perguruan tinggi berbagai prodi, setiap tahun menelorkan ratusan tenaga sarjana mulai diploma III hingga S1.  Sudah barang tentu, sebelum memasuki jenjang pendidikan tinggi terlebih dahulu warga masyarakat melewati jenjang SMA/SMK.   

“Walau bagaimanapun, sekolah-sekolah swasta mulai dari tingkat SD –  SMA, SMK sederajat se-Kota Solok adalah asset daerah, maka eksistensinya perlu diperhatikan, dievaluasi secara kontinue. Kalau ada keluhan, masalah, mesti carikan juga solusi,” hemat Syofinal.

Sebagai lembaga kontrol sosial, juga sempat ditekankan Sofinal Tanjung, agar dalam menerimaan calon siswa baru di tingkat SMP, SMA, jangan ada tekanan dari pihak manapun, biarkan pihak sekolah bekerja sesuai procedural.  Seperti misalnya para anggota dewan (DPRD), pejabat pemerintah, aparat ini dan itu, tatkala anak-kemenakan sekalipun dinyatakan gagal tes, jangan dipaksakan untuk tetap diterima. Sebab sikap tak terpuji ini cukup bardampak buruk terhadap mutu dan kwalitas pendidikan, sekaligus membunuh sekolah swasta.       
  
Saking kuatnya arus desakan sejumlah kalangan dalam proses penerimaan siswa baru, sejumlah sekolah akhirnya terpaksa melakukan penambahan lokal, ruang belajar. Seperti misalnya SMKN 1 Kota Solok, jumlah kelas X akhirnya mencapai 18 lokal, siswa ribuan orang, diikuti penambahan lokal di SMAN 1 Kota Solok. Sangat kontras dengan sekolah SMA/ SMK swastas, siswa barunya hanya berjumlah belasan orang.

Meski secara kwalitas terbilang bersaing, sarana prasarana lengkap, gedung kampus milik sendiri, namun sekolah swasta tetap kalah pamor.  Seperti halnya SMK Kosgoro, sebelumnya tercatat sebagai salah-satu sekolah swasta terbesar di Solok, SDM tenaga pendidik cukup handal, para lulusan rata-rata menjadi orang sukses.  

“Kuncinya terletak ditangan pimpinan daerah, sejauh mana ketegasan dan komitmennya untuk mau menegakkan sistem sesuai aturan, mekanisme,” imbuh Syofinal.

Faktor Persaingan, Swasta Lumpuh
Kepala Dinas Pendidikan Kota Solok, Rafatli, menegaskan kondisi miris yang dialami sekolah-sekolah swasta di Kota Solok menurutnya adalah sebuah konsekwensi yang harus diterima seiring kian pesatnya arus globalisasi, persaingan. Bukan serta-merta  hanya disebabkan oleh faktor monopili persaingan oleh sekolah swasta,serta kurang pedulinya Pemko Solok terhadap sekolah swasta.

“Kini masyarakat kian banyak pilihan dalam melanjutkan kemana mereka akan melanjutkan sekolah, baik itu sekolah umum maupun kejuruan. Bukan hanya di Kota Solok, melainkan  fenomena tersebut juga terjadi hampir di semua daerah. Ditambah  gedung sekolah negeri baru terus bermunculan mulai dari di tingkat pelosok, hingga pasar sekolah swasta kian terbatas,” jelasnya.

Kedati demikian, kedepan Dinas Pendidikan akan mencoba memikirkan terobosan secara tepat, hingga sekolah-sekolah swasta mulai dari SD – SMA/SMK tetap dapat beroperasi sebagaimana mestinya. (red)

 

Thursday, August 20, 2015

Panangga, Hobinya Loncat & Minta Rendang, Dengan Kondisi Badan Terpotong


Pusako News, - Kalau digambarkan maka Panangga sama dengan palasik, bedanya pada hakikatnya. Panangga tidak akan menggangu secara langsung, melainkan bisa dibilang iseng-iseng berhadiah. Karena hobi Panangga adalah meminta-minta rendang, dia akan menjaga rendang tersebut, dengan upah diberi sedikit rendang, sebab kalau tidak dicucuik, maka penangga akan menghilangkan minyak pada rendang tersebut hingga pucat, dan tak dapat dimakan lagi.

Biasanya jika suatu keluarga di Minangkabau ada acara dan sedang memasak rendang, pasti ada yang berada di dekat tungku memasak semalaman menjaga rendang tersebut. Kalau tidak, bisa “dicucuik” panangga. Esok hari rendangnya kelihatan pucat tidak berminyak lagi. Karena itu rendang yg kelihatan kurang berminyak sering plesetkan sebagai telah “dicucuik” oleh si panangga.
Penangga biasaya beraksi dengan setengah badan atau terpotong secara diagonal, sedangkan sisa badannya ditinggal dirumah. Potongan yang lain berkeliaran dikampung dan sekitarnya dengan meloncat-loncat.

Pernah ada cerita seorang tetua yang berpambayan (istri mereka bersaudara) dengan salah satu panangga ini. Pada malam saat si panangga ini sedang ber-“tangga”.  Potongan badannya yang tinggal, ditusuki dengan “saga” enau. Akibatnya menjelang subuh waktu tubuhnya mau menyatu lagi, tidak bisa dengan sempurna.

Seharian dia tidak bisa keluar kamar. Demam dan selalu berselimut. Besok malamnya waktu badannya lepas lagi baru saga dicabut.Kemudian hampir subuh badannya bisa menyatu lagi dengan  sempurna.

Dengan kondisi begitu, dia akan semakin segan pada sang pambayan. Di suatu kampung, karena dianggap semacam aib. Biasanya yg palasik atau panangga ini, sulit mendapat jodoh orang kampungnya sendiri.

Sehingga mereka banyak berjodoh dengan orang luar. Yang agak mengherankan , rata-rata mereka secara ekonomi berada di atas dari kebanyakan orang kampung.

Selama tahun 1980an, keluarga yg dianggap bermasalah ini memang sulit berjodoh dikampung. Setiap pinangan mereka selalu ditolak dengan halus. Sehingga kebanyakan mereka berjodoh dengan orang luar. Sekarang karena itu sudah dianggap tidak ada lagi dan karena silau dengan kekayaannya. Sudah banyak mereka yang dapat jodoh di kampung.(Mr.Goavan)

Wednesday, August 19, 2015

Palasik, Hantu Pembunuh Bayi


Pusako News, - Siapa yang tak kenal dengan Palasik. Minang Kabau, khususnya yang menetap di Sumatera Barat, selain mengenal rendang dan cara memasak rendang yang nikmat. Selain itu ada sebuah legenda masyarakat yang cukup terkenal seperti rendang yakni Palasik. menurut masyarakat, banyak jenis-makhluk halus yang sering menggangu, salah satunya adalah Palasik.
Kita pasti langsung tahu palasik sebenarnya adalah makhluk gaib. kononya menurut kepercayaan Melayu dan Minangkabau. padahal sebenarnya palasik ini bukanlah hantu, melainkan orang yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Pengamal imu hitam ini sangat sering menggangu dan mengincar bayi-bayi, karena bagi palasik darah bayi merupakan makanan mereka, serta amalan mereka dalam menuntut ilmu hitam.
Banyak bayi-bayi ataupun balita yang sering sakit, hal pertama yang terlintas di benak orang Minang adalah gangguan palasik. Tapi itu dulu, sekarang masyarakat Minang sudah berbeda, hal-hal seperti itu sekarang ini dianggap sebagai penyakit atau kekurangan gizi seperti makanan yang kurang sehat, ataupun penyakit lainya.
Meskipun begitu masyarakat minang tetap mengantisipasi adanya palasik yang menyerang bayi-bayi mereka, dengan cara mengonyokan atau memperlihatkan sesuatu dengan tangan, menyodorkan, kepada orang yang diduga palasik dan penganut ilmu hitam. karena menurut masyarakat setempat, hal itu akan membuat palasik tak dapat beraksi, atau cara lainya adalah jangan sampai si bayi bertemu atau terlihat oleh orang yang diduga palasik.(Mr.Goavan)

Tuesday, August 18, 2015

Kisah Orang Bunian


Pernahkah kalian mendengar kisah Orang Bunian? Ini adalah kisah kakek saya ketika saya masih kecil. Pada tahun 1970-an, kakek saya bekerja sebagai eksekutif di sebuah perkebunan kelapa sawit besar di pulau Sumatera. Perkebunan ini posisinya di sebelah selatan dari Danau Toba dengan area berbukit-bukit

Semua rumah eksekutif dibangun berjajar di atas salah satu bukit rendah. Kebetulan rumah kakek ada di urutan kedua dalam jajaran itu. Di depan rumahnya, terdapat beberapa baris pohon kelapa sawit. Lalu di depannya lagi, adalah turunan menuju lembah. Tanah itu terlalu curam untuk ditanam pohon. Oleh karena itu, di depan situ dipenuhi dengan tanaman liar dan pepohonan membentuk sebuah hutan kecil. Lembahnya sendiri penuh dengan berbagai pohon besar, serangga tropis dan tumbuhannya lainnya.

Dia masih baru di situ. Sehingga setelah selesai bekerja kembali ke rumah. Selain TV satelit tidak ada hiburan apa-apa lagi di sana. Setiap hari kerja dia akan bangun jam 5 dan mulai bekerja.

Selama pengalaman bekerjanya itulah dia mendapat pengalaman unik. Semenjak minggu pertama dia datang sini, dia baru sadar bahwa setiap hari Rabu sore selalu ada bunyi genderang ditabuh di depan rumahnya (yakni daerah hutan situ). Suara tabuhan drum ini selalu mulai tepat jam 6.30. Suara ini akan berlangsung antara setengah hingga satu jam. Suaranya selalu berhenti mendadak, sama seperti ketika mulai. Dia berpikir mungkin di sana ada suatu upacara, atau perayaan.

Ketika dia bertanya pembantu di rumahnya, apa sebetulnya itu, dia hanya menaikkan bahu dan tidak menjawab. Dia berpikir mungkin tidak sopan untuk bertanya hal-hal seperti itu, jadi tidak pernah bertanya lagi.

Ketika dia sudah cukup lama tinggal di perkebunan, dan sudah semakin akrab dengan orang-orang di sana, rasa penasaran akan suara genderang itu semakin meningkat. Setahu dia, lembah di depan rumahnya itu tidak ada bangunan atau rumah. Namun setiap hari Rabu, suara genderang selalu terdengar dari sana, cukup dekat, sepertinya datang dari lembah itu sendiri!

Akhirynya dia mencoba bertanya asisten dia. Mereka hanya tersenyum menjawab, “Itu orang Bunian pak.” Dia tidak ingin kelihatan bodoh sehingga menjawab “Oh” dan menggangguk saja. Kebetulan ada satu asisten yang sangat dekat dengan kakek. Namanya Jamal. Kakek bertanya ke dia, apa itu orang Bunian. Jamal menjawab bahwa orang Bunian ini termasuk makhluk mistis yang tidak bisa kelihatan oleh manusia. Mereka umumnya senang tinggal di dekat manusia dan kadang berhubungan dengan mereka. Bahkan ada cerita beberapa pria yang menikahi perempuan Bunian dan bergabung dengan masyarakat Bunian. Tetapi manusia yang bergabung, akan ikut tidak terlihat lagi.

Terkadang manusia bisa meminta bantuan dengan Bunian. Misalnya seseorang sedang mengadakan perjamuan dan kekurangan piring dan sebagainya, mereka bisa meminjam dari Orang Bunian. Namun piring itu harus dijaga dengan baik, dan tidak boleh ada satupun piring yang rusak.

Kakek pun bertanya, bagaimana dia bisa membuktikan kalau yang menabuh genderang ini adalah Orang Bunian? Jamal bercerita dulu dia bersama dua asisten lain sempat turun ke situ. Berbekal senter dan pisau panjang mereka bertiga menuju lembah dan berjalan menuju sumber suara. Mereka sudah berjalan cukup jauh, tetapi suara itu tetap hanya terdengar sangat dekat, tidak pernah ditemukan sumber suara. Dikarenakan hari sudah gelap, mereka pun membatalkan petualangan mereka dan bergegas pulang.

Kita bisa menemukan banyak informasi mengenai “Orang Bunian” ini dan membaca baca mengenai kisah mereka di cerita masyarakat sekitar. Saya yakin mereka ada, karena saya sudah terlalu sering mendengarkannya, dan apalagi kakek saya sendiri juga menceritakan ini ke saya (Red)


Sunday, August 16, 2015

Bukik Posuak, Keajaiban Dunia Dari Maek



Selain lebih dikenal sebagai Nagari Seribu Menhir, ternyata pesona alam Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, juga tak kalah eksotik dan menakjubkan, Bahkan di nagari ini ada terdapat sebuah pemandangan cukup langka, yakni bukit berlobang. Pemandangan tersebut dengan jelas dapat disaksikan dari pusat perkampungan, yang  oleh masyarakat setempat dinamai Bukik Posuak. Bagaimana kisahnya ?

Pusako— Limapuluh Kota

Berdasarkan cerita warga di Nagari Maek, dahulu pernah ada seorang Raja yang berkuasa di Maek, bernama Bagindo Ali. Selain sebagai pemimpin negeri, Bagindo Ali juga memiliki hobi berburu rusa di hutan, dan keetulan ia cukup mahir memanah.

Dalam setiap pergi berburu ke hutan, Sang Raja selalu didampingi para pengawalnya yang masing-masinya juga memiliki keahlian tersendiri, dan baru akan kembali pulang setelah mereka berhasil menangkap buruan.  Terkadang untuk mendapatkan buruan, rombongan pun harus bermalam selama berhari-hari di dalam hutan belantara.

Setiap kali Sang Saja melepskan anak panah, berpantang tidak akan mengena. Maka, tidaklah mengherankan, begitu Badindo Ali sempat membidik sesuatu, para pengawal pun akan langsung berlari menuju sasaran tempat anak panah Sang Raja bersarang. Bangkai rusa dibopong dibawa pulang.

Namun suatu ketika, setelah sehari suntuk mengarungi hutan, rombongan belum juga menjumpai satu ekor rusa pun. Hingga membuat Bagindo Ali kala itu ikut geram, penasaran, kenapa dia dan anak buahnya sempat bernasib sial.  Dengan tetap penuh semangat, petualangan pada sore itu dilanjutkan sesuai intruksi Raja.

Berkat gigih, gayung pun bersambut. Seekor rusa jantan besar sekilas terlihat melintas di sela-sela rerumpun ilalang, menuju sebuah tepian anak sungai yang mengalirkan air begitu jernih. Tanpa harus membuang waktu, Sang Raja yang kala itu ternyata ikut melihat targetnya, langsung membidik dan menarik tali busur, hinnga anak panahnya melesat secepat kilat. Beberapa orang pengawal seketika berlari menuju sasaran.

Akan tetapi, kali ini tembakan jitu Bagindo Ali meleset, hingga si rusa berhasil kabur. Spontan, Sang Raja langsung naik pitam, tak biasanya anak panahnya mendurhakainya seperti itu. Dengan wajah yang kian garang, Sang Raja didampingi seluruh pengawal kembali mengejar rusa misteri tersebut, seraya sesekali melangkah menginjit-injit dibalik semak. Sialnya, setelah berjam-jam mengintai, buruan tersebut belum kunjung menampakan diri.

Berkat sabar, akhirnya Bagindo Ali berhasil memergoki rusa jantan yang dimaksud dekat tepian sebuah sungai, dan langsung membidik sembari menarik tali busur secara penuh. Ssstt, anak panah Sang Raja pun seketika bersarang persis di bagian leher si rusa.  Tak hayal, petualangan yang melelahkan itu dapat segera terbayarkan. Saking kesal, Bagindo Ali mengeluarkan pedang dari sarangnya, dan mencincang tubuh rusa misterius tersebut.  

Guna membalas sakit hati, Sang Raja dengan sekuat tenaga melemparkan potongan paha rusa hasil buruannya itu arah ke bukit, hingga membuat leher bukit berlobang, dan tembus ke daerah sebelah.  Kebetulan tempat mendaratnya potongan paha rusa, dinamai Bukit Paha Rusa.  

Selanjutnya, peristiwa tersebut hingga sekarang secara turun-temurun terus melegenda di tengah-tengah masyarakat Nagari Maek, meski sesungguhnya kebenarannya memang sulit diterima dengan logika. Bukit berlobang berdiametar sekitar 24 meter persegi itu dinamai Bukik Posuak, yang oleh masyarakat setempat cukup diyakini menyimpan misteri tersendiri.

Jadikan Potensi Unggulan dan Ikon Sumbar
Wakil Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Maek, Anwar Dt.Siri, menuturkan, meski riwayat Bukit Posuak berawal dari sebuah cerita rakyat, namun obyek tersebut menurutnya patut dipromosikan sebagai salah satu obyek unggulan di Sumbar, karena hanya ada satu di Indonesia, dan dua di Dunia. Maka, Pemkab Limapuluh Kota bersama Pemerintah Provinsi (Pemrov) Sumbar perlu mengangkat Bukik Posuak sebagai obyek yang lebih bernilai jual.

“Terlepas dari legenda terciptanya Bukik Posuak, yang jelas Obyek Bukik Posuak bentuknya sangat unik, serta terkesan sebuah keajaiban,” tukas Anwar.

Diakui Anwar, karena minimnya perhatian pihak berkompeten, Bukik Posuak nyaris luput dari perhatian Masyarakat Sumbar, bahkan masyarakat Limapuluh Kota sendiri masih juga ada yang tidak tahu. Dikarenakan akses jalan menuju Nagari Maek yang hanya berjarak 35 km dari pusat kota Limapuluh Kota, memang begitu memprihatinkan.  Akhirnya Bukik Posuak masih saja tenggelam bersamaan dengan ketidak tahuan publik.

“Kalau memang Pemerintah Daerah berniat mempromosikan Bukit Posuak sebagai salah satu obyek unggulan, masyarakat Maek pun bersedia membuka diri,” pungkas Anwar.

Ditambahkan Tokoh Perantau, Dedi Permana, jika Bukik Posuak dipromosikan secara ekstra, diyakini obyek yang satu itu bakal segera mendunia, dengan bentuknya yang unik pasti mengundang adrenalin wisatawan.  Ditambah Nagari Maek juga merupakan Nagari Seribu Menhir, yang menurut para pakar sejarah diyakini termasuk daerah tertua terciptanya peradaban manusia di Sumbar.

“Hendaknya jangan hanya untuk dikenang, tapi bagaimana kedepannya Nagari Maek mampu menjadi daerah tujuan wisata. Salah satunya, perlu didukung dengan tersedianya infratruktur secara wajar, seperti perbaikan akses jalan utama menuju Maek yang kini masih memprihatinkan,” imbuh Dedi. (Red)

*** Disadur dari Harian Pagi Padang Eksprs

Saturday, August 15, 2015

Menyingkap Tabir Inyiak Balang (2)


Sering Hadir dalam Sasaran Silek


                                         Aksi Dua Murid Perguruan Silek Harimau Kubuang

Entah itu mitos, tahayul, Namun banyak kalangan di Kabupaten Solok mempercayai jika sosok harimau alias inyiak balang juga punya hubungan tersendiri dengan paranormal/ orang pintar, serta kalangan tertentu dari garis keturunan ditentukan. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, inyiak balang pun juga bisa hadir di tengah perguraun silek (silat) karena inyiak adalah sosok pendekar tangguh. Peka lingkungan, beradat,  dan berteninga bumi,” Bagaimana mungkin  ?    

Bandaro Mudo— Solok

Maka, jangan heran, bila berbicara soal inyiak balang, banyak berkembang cerita-cerita klasik di tengah-tengah masyarakat sebagai satu kesatuan masyarakat hukum adat, yang diantaranya terkadang mengandung pesan moral tersendiri. Selanjutnya cerita-cerita tersebut melebur dan mengalir secara turun temurun hingga menyatu dengan rangkaian sejarah berdirinya negeri itu sendiri. Dibarengi dengan berlakunya kultur, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal/tradisi pada suatu nagari.

Bila ditelisik, cerita unik seputar inyiak balang tidak pernah habisnya, karena di setiap nagari punya cerita tersendiri soal inyiak balang. Namun kali ini, Padang Ekspres hanya mencoba mengutip dua hal saja, yakni soal kedekatan inyiak balang dengan perguruan silat, dan paranormal.

Rizal Cardov Dt. Intan Sati, seorang Tuo Silek asal Nagari Cupak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok yang sekaligus Pengasuh Perguruan Silek Harimau Kubuang, di Nagari Cupak dan Kotobaru ,menyebutkan, harimau menurutnya bukan hanya semata-mata binatang buas yang lazim berekosisteem di hutan lebat, melainkan juga maqam-nya silek. Maqam adalah semacam roh, yang pada akhirnya bisa menyatu dalam diri seorang pendekar Minangkabau yang mahir bersilat. Namun juga tidak semua pendekar memiliki maqam harimau, meski mereka terbilang tangkas, mahir, serta lihai memainkan berbagai aliran silek Minangkabau. Melainkan, orang-orang yang memiliki maqam harimau itu, adalah orang-orang pilihan.

Dijelaskan Rizal, dalam ilmu beladiri silat lebih menonjolkan raso (rasa), diikuti ketepatan, kecepatan, dan ketangkasan. Sebelum belajar lebih dalam, seorang calon pendekar terlebih dahulu harus mengenal dirinya, mengenal tuhannya, serta menguasai ilmu agama secara lahir dan bhatin. Yang tak kalah penting, calon seorang pendekar juga harus berhati lapang, penyabar, hingga mampu mengendalikan diri dalam situasi apapun. Hakikit ilmu silat di minagkabau bukan untuk melumpuhkan lawan, namun bagaimana memerangi diri sendiri terhadap hawa nafsu. Di lahir mencari kawan, di bathin mencari Tuhan.

Setelah diri dapat dikendaliakan, dengan sendirinya maqam silek akan masuk ke dalam raga, hingga seseorang itu menjadi pendekar tangguh. Sekalipun seorang pendekar itu sedang tidak sadar ancaman bahaya tengah mengintai, namun secara reflek ia tetap dapat menghindar, mengelak. Seperti idealnya seekor harimau, sangat peka, lincah, cekatan terhadap lingkungan, meski secara kasat mata cenderung terlihat tenang.

“Lihat saja karakter harimau, dibalik bawaannya yang tenang, pendiam, tersimpan karakter tangguh, kuat, serta lincah. Ketika sempat terusik, apalagi tersakiti, niscaya tak satupun hewan lain berani menandinginya. Begitu pula seorang pendekar yang ber-maqam harimau, juga lincah, tangguh,” Jelas Rizal.

Sempat dikisahkan bapak dua anak yang menguasai lima macam aliran silat (silek kinari, silek langkah ampek, silek langkah tigo, silek induak ayam, silek tuo aliran harimau), sewaktu belajar silat dengan gurunya, Cikmai, (alm) di Kotobaru, Kambang, Kabupaten Pesisir Selatan, pernah mengalami peristiwa tak lazim hingga kenangan itu sampai sekarang masih membekas dalam dirinya.

Sedang asyik belajar silat dengan sang guru, sekitar 8 tahun silam,  di halaman belakang rumah, tak disadarinya ternyata ia betul-betul telah bergulat beneran dengan harimau.  Hal itu baru diketahui ketika menjelang waktu subuh, tiba-tiba sang guru mendadak keluar dari dalam gubuknya, namun dengan raut wajah seperti orang baru bangun tidur. Padahal baru dalam hitungan menit saja ia bersama sang guru habis latihan bersama, hingga diantara mereka sempat saling bercucuran keringat.

“Saya kaget, kenapa bisa guru datang melenggang dari gubuknya seperti orang bangun tidur, padahal kami berdua sudah semalam suntuk berlatih silat. Jangankan berkeringat, malah sorot matanya tampak layu, bahkan sempat beberapa kali menguap. Lantas, dengan siapa sesungguhnya semalam bergulat, hati saya seketika berdebar-debar,” Kenang Rizal tentang masa lalunya.

Setelah meneguk segelas air putih, barulah Rizal tersadar, jika saat berlatih semalam memang ada beberapa keganjilan dengan gurunya itu. Dimana tubuh gurunya agak lembut bagaikan kapas, fisiknya relatif kuat, gerakan cenderung rendah dan lincah, setiap kali di serang selalu berhasil mengelak, disertai bau apik menyengat.  Selanjutnya Rizal diberikan arahan oleh gurunya, Cikmai, semua peristiwa yang dialami tersebut adalah bahagian dari ujian seorang calon pendekar, hingga tidak perlu dirisaukan.

“Jika hendak dikupas lebih dalam lagi soal hubungan silat dengan harimau si-inyiak balang, sebenarnya masih banyak rentetan cerita lainnya. Namun ini tak mungkin dibahas untuk umum, karena kajian tersebut belum tentu dapat diterima dan diterjemahkan semua orang. Meski begitu, saya juga bukan seorang pendekar, orang pintar, melainkan hanya orang biasa,” Imbuh Rizal berupaya merendahkan diri.


    Foto: H.Sutan Jauhari Dt.Rajo Bangkeh

Lain halnya dengan H.Sutan Jauhari Dt.Rajo Bangkeh,75, seorang paranormal sekaligus tokoh masyarakat di Nagari Gauang, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, menurutnya harimau alias inyiak balang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah panjang peradaban nagari dan manusia sendiri. Bahkan, kehadiran harimau di Ranah Minang bisa dibilang bersamaan dengan munculnya manusia, hingga satu sama lain punya hubungan emosional, kekerabatan meski alamnya berbeda. Harimau hidup di hutan, sedangkan manusia hidup bermasyarakat mendiami kampung.             

Dijelaskan Sutan Jauhari, berpedoman pada cerita para tetua adat, paranormal terdahulu, tuo silek, sosok harimau begitu peka terhadap lingkungan, serta senantiasa memberikan khabar, sinyal, isyarat pada manusia yang mendiami kampung. Terlebih ketika penduduk kampung sempat terlanjur melakukan perusakan, berbuat kemungkaran, kezaliman, harimau dari pinggir hutan sewaktu-waktu akan mengaum memberikan peringatan, disusul bunyi-bunyian satwa liar lainnya seperti suara simpai, beruk, kera. Akhirnya seketika suasana hutan terdengar heboh.

“Jika inyiak balang telah memberikan peringatan, berarti penduduk kampung itu telah banyak berbuat kerusakan, seperti bezina, berjudi, hingga berbagai perbuatan yang bertentangan dengan adat/agama,” Jelas Sutan Jauhari.

Ketika inyiak balang hendak masuk kampung menuju suatu tempat, ia memiliki jalan perlintasan tersendiri yang tak pernah berobah-robah, dan ini oleh penduduk kampung biasa disebut jalan pinti, atau jalan pinteh.  Di kala inyiak balang sedang lewat, biasanya turut diiringi dengan teriakan suara tupai, burung hantu, dan ramainya suara belalang. Maka, setiap penduduk kampung hendak mendirikan rumah harus terlebih dahulu diperhitungkan letaknya, sebab ada kalanya lokasi yang terlihat strategis merupakan jalan pinti inyiak balang.

Tidak hanya di hutan, sebagahian harimau juga ada yang berhabitat dalam areal perkampungan. Namun keberadaannya tidak mengganggu, justru lebih berperan sebagai penjaga kampung, sekaligus menjadi piaraan sejumlah paranormal, tetua adat, kalangan tertentu. Pada sewaktu-waktu harimau bisa berobah wujud menjadi manusia. Bedanya, ketika berpapasan dengan penduduk, mukanya cenderung menunduk, tidak berani menatap secara langsung,”beber Sutan Jauhari.

Menariknya lagi, setiap ada datang menyusup harimau baru dari negeri lain, kelompok inyiak balang di hutan ulayat maupun rimba belantara, pasti melakukan perlawanan, selanjutnya  mengusir untuk keluar dari daerah kekuasaan mereka. Karena kehadiran harimau pendatang, cenderung mengganggu kestabilan ekosistem hutan, bahkan berpotensi menjarah hewan ternak milik warga.  Hal ini biasanya dapat ditandai dengan hebohnya suara binatang liar di pinggir hutan, hingga penduduk kampung harus segera mengemasi, mengikat, dan mengurung hewan ternaknya selama beberapa dalam kandang.

“Yang cenderung mengganas, bahkan memakan hewan ternak milik warga, bukan inyiak balang, namun itu adalah harimau pendatang, lazim disebut cindaku. Sementara inyiak balang tetap hidup beradat, tau dengan salah dan benar. Instingnya tajam, peka, dan bertelinga bumi,” Imbuh Sutan Jauhari yang juga tercatat mantan Wartawan Harian Semangat di era 1980 - 1990-an.

Seperti halnya kebanyakan harimau berhasil dibunuh, ditangkap, serta diasingkan ke kebun binatang adalah harimau pendatang yang bersalah, bukan inyiak balang. Namun harimau pendatang itu sesungguhnya juga punya kekuatan ghaib. Setelah dihalau masuk perangkap lewat serangkaian ritual khusus, merindu pakai saluang diiringi bunyi-binyian alat musik tradisional, selanjutnya oleh pawang/paranormal yang ditunjuk, dijadikan piaraan penjaga ladang. Tetapi, bagi yang terbukti berbuat kesalahan berat, tetap harus diganjar hukuman berat pula. Bak petuah, berhutang nyawa dibayar nyawa, berhutang darah dibayar darah, serta berhutang budi dibalas budi. 

Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan infratruktur mendesak sampai pelosok negeri, hutan lebat menyempit akibat aktivitas peladangan, cerita seputar eksistensi inyiak balang semakin hilang. Termasuk di Nagari Gauang sebagai salah satu nagari yang awalnya dikenal kental dengan nilai-nilai adat, tradisi, hingga berbagai bentuk kearifan lokal lainnya.

Ketua LKAM Kabupaten Solok, Syafri Dt.Siri Marajo, membenarkan adanya pemahaman, kepercayan tersendiri masyarakat Solok soal seputar inyiak balang, bahkan fenomena tersebut secara alamiah mengalir dari generasi ke generasi. Percaya atau tidak, setiap nagari punya cerita tersendiri tentang harimau hingga akhirnya menyatu kedalam sebuah kerifan lokal yang sulit terbantahkan.

“Barangkali tidak hanya di Kabupaten Solok, namun cerita klasik seputar inyiak balang juga dibilang melegenda hampir di se jagat raya Minangkabau. Meski kisahnya berbeda, motifnya dan pesan moralnya tetap sama,” Kata Syafri.

Walau demikian, pihaknya mengimbau supaya pemahaman, kepercayaan mistis soal inyiak balang jangan sampai jatuh ke sifat syirik, karena semuanya bisa saja terjadi tak terlepas atas kuasa Allah SWT. Sebagaimana tertuang dalam rukun iman, percaya pada yang ghaib, jika Allah SWT menghendaki, tidak ada yang mustahil.  Allahuambissawab (Red)  

*** Dikutip dari Harian Pagi Padang Ekspres ***
  




















 

     










   





 

       






Menyingkap Tabir Inyiak Balang (1)


Penjaga Kampuang, Bertelinga Bumi 


Percaya atau tidak, yang jelas sosok harimau di mata masyarakat Sumbar tidak hanya dipandang sebagai si-raja hutan, namun juga dipercaya punya nilai historis tersendiri, hingga sosok satwa langka dilindungi ini menjadi satu-satunya hewan predator paling fenomenal. Bahkan, jika berbicara soal sosok harimau, tak jarang pula masyarakat mengait-ngaitkannya dengan unsur mistis, magic, ghaib, serta beragam pemahaman lainnya diluar nalar.  Apa mungkin  ?

Bandaro Mudo— Solok

Seperti halnya di Kabupaten Solok, sampai sekarang sosok harimau juga masih dipercaya sakral dan fenomenal. Terlebih bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkampungan pinggiran, masyarakat nagari yang secara sosial masih kental dengan kultur, adat, dan nilai-nilai kearifan lokal, percaya jika sosok harimau bukan sekadar hewan buas dilindungi. Namun, punya nilai lebih, bersamaan dengan perjalanan panjang peradaban negeri itu sendiri.

Atas dasar itu pula, akhirnya masyarakat Solok juga cenderung mengistimewakan harimau dibanding hewan lainnya, hingga dari segi namanya lazim disebut inyiak balang, bahkan dijuluki si-Ampang Limo. Mengapa, karena bagi masyarakat, sosok si inyiak balang cukup erat kaitannya dengan peradaban negeri dari masa ke masa, dan pemahaman tersebut mengalir secara turun temurun. Bahkan, oleh banyak kalangan, harimau juga dipercaya punya perasaan, naluri, peka terhadap lingkungan, tau mana yang salah dan benar, seperti kodratnya manusia.

Tidak hanya masyarakat pinggiran, pemahaman demikian juga ikut melekat ditengah-tengah masyarakat perkampungan yang tergolong heterogen, bahkan perkotaan. Meski mereka secara sosial lebih berilmu pengetahuan, namun soal cerita yang satu ini, tetap tak bisa dihilangkan. Sampai-sampai, sosok harimau bagi sebahagian warga disebut  sebagai penjaga kampung.

Demikian betul harimau dimata masyarakat Solok sebagai salah satu daerah yang erat kaitannya dengan perjalanan panjang peradaban/kedaulatan Alam Minagkabau, hingga tidak mengherankan bila Solok termasuk salah-satu daerah stategis yang peka dengan nilai-nilai tradisi, adat, budaya, berbagai kearifan lokal. Sebagai simbol kebesaran masyarakat adat Solok, ikut ditandai dengan berdiri megah banyak Rumah Gadang hampir di setiap nagari.

Hewan predator alias Inyiak Balang, konon ada yang menjadi piaraan oleh kalangan tertentu, setelah sebelumnya ditangkap oleh pawang khusus dan kalangan tertentu akibat berbuat kesalahan, seperti memangsa hewan ternak, mengganggu warga.  Lewat serangkaian ritual khusus, sosok harimau buas selanjutnya bertuan pada manusia, dan pada waktu-waktu tertentu bisa dipangil, disuruh-suruh sesuai perintah tuannya.  Namun, kedekatan harimau dengan manusia relatif terbatas, tidak seperti umumnya hewan piaraan, hewan ternak.

Adapun kalangan yang cenderung punya hubungan dengan Inyiak Balang, adalah Tetua Adat, Tuo Silek (tetua silat), Paranromal, Dukun Besar, Orang Keramat, serta kalangan tertentu yang telah ditentukan. Konon tradisi ini dapat diwariskan secara turun temurun, selagi kaidah dan ketentuannya masih tetap terjaga.


                                                 https://forum.lowyat.net/topic/1689324/all

Bahkan,  inyiak balang diyakini bisa saja berhabitat di areal peladangan, hutan ulayat, dengan sebutan si-Ampang Limo. Atau dengan sebutan lain seperti “inyiak” penjaga kampung, yang cukup peka dengan kondisi lingkungan, punya insting, naluri.  Meski begitu, inyiak balang sangat jarang memperlihatkan wujud aslinya (tubuh belang-red), melainkan eksistensinya dibuktikannya secara isyarat.  Ketika ada seseorang yang tersesat di hutan, inyiak balang tak jarang memberikan pertolongan. Sebaliknya, juga bisa marah bila ada warga yang kedapatan berbuat kejahatan, kerugian.

Dasril,45, salah seorang petani asal Nagari Kotosani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, pernah memiliki pengalaman unik soal keberadaan inyiak balang di kampungnya, berawal ketika ia pada beberapa tahun silam tersesat sepulang mencari madu di hutan ulayat kampungnya.

Ketika itu  hari sudah beranjak senja, langit mulai gelap,  sementara ia masih terkepung dalam lingkungan lebatnya hutan belantara. Dalam suasana yang kian galau, ia pun memutuskan untuk mencoba beserah diri pada Allah SWT seraya minta bantuan pada inyiak balang penjaga hutan.  Tak lama berselang, muncul bunyi-bunyian seperti suara ranting kayu patah hingga ia memutuskan mengikuti aba-aba tersebut. Sampai akhirnya, Dasril betul-betul menemukan jalan setapak yang merupakan jalan umum dari hutan menuju kampung.

“Ketika menuju pulang, saya tersesat, hingga saya memutuskan mengikuti arah bunyi-bunyian yang tiba-tiba muncul. Alhamdulilah, saya berhasil menemukan jalan setapak menuju pusat perkampungan, dan selamat sampai tujuan,” Aku Dasril     

Serupa, Ani ,60, warga Nagari Jawi-jawi, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok  yang sehari bekerja sebagai pencari kayu bakar. Dalam perjalanan pulang, ia sempat terjebak dalam rimba bertaut dan lebih lima jam berputar-putar tak tentu arah.  Hingga dia bersama putranya mencoba berseru agar diberikan petunjuk.

Ternyata benar, tidak lama berselang, dari kejauhan muncul suara seperti orang memukul-mukul bambu, hinga bunyi-bunyian tersebut diikutinya.  Sampai akhirnya, ibu tiga anak tersebut menemukan jalan pintas menuju pulang  yang sehari-hari memang sering dilewati warga peladang.

“Kalau tidak ada petunjuk, mungkin kami telah mati ditelan hutan lebat itu,”  Kata Ani sembari mengingat kejadian sekitar 15 tahun silam tersebut.

Selaku warga kampung, Ani, meyakini, inyiak balang telah memberikan pentunjuk padanya. Bahkan, baginya inyiak tidak hanya berhabitat di hutan, melainkan juga di dalam perkampungan.  Cuma saja, inyiak balang tidak serta-merta dengan mudah memperlihatkan wujud aslinya pada penduduk layaknya binatang buas lainnya, melainkan hanya dalam bentuk isyarat.  Bahkan, hal tersebut pada sewaktu-waktu bisa juga dibuktikan dengan adanya jejak telapak kaki harimau di tempat-tempat tertentu, serta pembuktian lain yang bisa disaksikan dengan mata kepala. Disaat musim durian, ada buah durian yang didapati warga dalam kondisi terbelah rapih tanpa terpisah dengan tampuknya, seakan dibelah begitu hati-hati. 

“Meski sekarang zaman sudah canggih, saya tetap percaya soal cerita inyiak balang,” Imbuhnya.

Masih banyak pengalaman lainnya dialami masyarakat di berbagai belahan nagari Kabupaten Solok, yang semuanya berkaitan erat dengan keberadaan harimau, hingga menjadi sebuah kearaifan lokal yang terus mengalir secara turun temurun. Terlebih di lingkungan masyarakat pinggiran yang secara sosial cukup dekat dengan alam, kental dengan nilai-nilai tradisi, serta peka terhadap warisan budaya leluhur. 

Percaya atau tidak, namun memang begitulah adanya.  Bahkan ada pula sebahagian kalangan yang meyakini jika areal ladang/kebun garapan secara turun temurun telah dijaga oleh inyiak, dan penjaga kebun misterius tersebut sewaktu-waktu akan marah tatkala ada seseorang yang berniat mencuri, berbuat kerugian. Allahualam bissawab. (Red)

**** Dikutip dari Harian Pagi Padang Ekspres



 












    



     





 

       






Friday, August 14, 2015

Terlupakan, Surau Tuo Merana


Seiring kian berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat eksistensi Surau melemah. Saking tak dianggap penting, kondisi Surau Tua di banyak daerah dibiarkan melapok, hingga akhirnya runtuh sendiri.

Sebagaimana halnya Surau Tua yang satu ini, terdapat di Nagari Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, kondisinya kian memprihatinkan, Karena terlanjur lapuk dimakan usia, bangunannya tidak bisa lagi dipakai.  (Bandaro Mudo)

Ada Durian di Kampung Kubu


                                                                                             Foto milik: http://www.kindo.hk/blog/?e=870

Ternyata tidak berbeda dengan lazimnya sebuah perkampungan di Minangkabau, justru di Kampung Kubu  dalam areal lebatnya hutan belantara juga terdapat sejenis buah-buahan berorama khas, yakni buah durian. Bahkan menurut pengakuan sejumlah kalangan yang pernah ke sana, raa buah durian di kampung kubu tak kalah enaknya.

Dalam gambar ini terlihat seorang ibu muda memikul keranjang yang dipenuhi buah durian, ditemani anak perempuan menggendong adiknya, sepulang dari ladang membantu suaminya. Selain hidup berpencar di dalam hutan belantara, warga kubu ternyata juga bercocok tanam di ladang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apakah itu berupa buah-buahan, sayuran, umbi-umbian, hingga tanaman rempah dan obat-obatan.

Sekali-sekali  warga kubu secara berkelompok menggelar acara berburu hewan liar,  hasil buruan yang didapat dibagi sama rata. Tiap kelompok biasanya memiliki seorang pimpinan, berfungsi sebagai pelindung bagi anggota. 

Demikian sekilas cerita  buah durian di Kampung Kubu yang banyak berhabitat di sebahagian besar pedalaman hutan Dharmasraya - Jambi. Jika ingin tahu lebih jauh bagaimana kisahnya, silahkan untuk mencoba bertualang ke sana.(Bandaro Mudo)  

Thursday, August 13, 2015

Mengenal Suku Kubu



Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatera, tepatnya di Provinsi Jambi, dan Sumatera Selatan.

Meski begitu, mereka mayoritas hidup di Provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. Menurut pernyataan suku Anak Dalam, mereka  merupakan orang Maalau Sesat, yang  lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.


Riwayat lain juga menyebutkan, mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti diantaranya memakai sistem kekerabatan matrilineal.

Secara garis besar, mereka di Jambi hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu bagian utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.


Namun kini, sitem kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan kian hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi, dan Sumatera Selatan, diperparah proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatera Selatan.

Mayoritas suku kubu menganut kepercayaan animisme.  Tetapi juga ada beberapa puluh keluarga suku kubu yang telah menganut Agama Islam.  

Bagaimanakah  gerangan nasib mereka kedepan seiring kian berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi ?  Allahualam bissawab. (Bandaro Mudo)