Showing posts with label Paco paco. Show all posts
Showing posts with label Paco paco. Show all posts

Thursday, August 20, 2015

Antu Aru-Aru, Sangat Iseng & Suka Bikin Orang Kesasar Tak Terduga


Pusako News, - Kenal dengan Antu Aru-Aru, yang suka bikin orang tersesat, anak sampai orang dewasa. Yang paling iseng dari perilaku antu aru-aru adalah, korban dari antu tersebut sering ditemukan di tempat yang tak terduga.

Contohnya yang sering terjadi adalah korban ditemukan diatas pohon Aru atau Waru yang dipenuhi dengan duri-duri yang sangat tajam. tentu ini sangat aneh, bagaimana bisa sang korban berada di atas pohon.

Yang paling sulit adalah sewaktu mencoba menyelamatkan korban, pasti sangat sulit. Bagaimana tidak, resikonya adalah tertusuk duri. oleh sebab itu orang yang dibawa lari antu aru-aru, sering ditemukan di tempat yang aneh dan berisko, serta tak masuk akal.

Banyak cara untuk mengantisipasi supaya tidak terkena isengan antu aru-aru, biasanya antu-aru-aru mengerjai orang-orang yang masuk hutan. oleh sebab itu cara menghindari antu aru-aru adalah dengan menggunakan pakaian secara terbalik ketika memasuki hutan.

Dan begitupun penyelamat yang ingin mencari dan menemukan antu aru-aru, juga harus menggunakan pakaian terbalik.(Mr.Goavan)

Panangga, Hobinya Loncat & Minta Rendang, Dengan Kondisi Badan Terpotong


Pusako News, - Kalau digambarkan maka Panangga sama dengan palasik, bedanya pada hakikatnya. Panangga tidak akan menggangu secara langsung, melainkan bisa dibilang iseng-iseng berhadiah. Karena hobi Panangga adalah meminta-minta rendang, dia akan menjaga rendang tersebut, dengan upah diberi sedikit rendang, sebab kalau tidak dicucuik, maka penangga akan menghilangkan minyak pada rendang tersebut hingga pucat, dan tak dapat dimakan lagi.

Biasanya jika suatu keluarga di Minangkabau ada acara dan sedang memasak rendang, pasti ada yang berada di dekat tungku memasak semalaman menjaga rendang tersebut. Kalau tidak, bisa “dicucuik” panangga. Esok hari rendangnya kelihatan pucat tidak berminyak lagi. Karena itu rendang yg kelihatan kurang berminyak sering plesetkan sebagai telah “dicucuik” oleh si panangga.
Penangga biasaya beraksi dengan setengah badan atau terpotong secara diagonal, sedangkan sisa badannya ditinggal dirumah. Potongan yang lain berkeliaran dikampung dan sekitarnya dengan meloncat-loncat.

Pernah ada cerita seorang tetua yang berpambayan (istri mereka bersaudara) dengan salah satu panangga ini. Pada malam saat si panangga ini sedang ber-“tangga”.  Potongan badannya yang tinggal, ditusuki dengan “saga” enau. Akibatnya menjelang subuh waktu tubuhnya mau menyatu lagi, tidak bisa dengan sempurna.

Seharian dia tidak bisa keluar kamar. Demam dan selalu berselimut. Besok malamnya waktu badannya lepas lagi baru saga dicabut.Kemudian hampir subuh badannya bisa menyatu lagi dengan  sempurna.

Dengan kondisi begitu, dia akan semakin segan pada sang pambayan. Di suatu kampung, karena dianggap semacam aib. Biasanya yg palasik atau panangga ini, sulit mendapat jodoh orang kampungnya sendiri.

Sehingga mereka banyak berjodoh dengan orang luar. Yang agak mengherankan , rata-rata mereka secara ekonomi berada di atas dari kebanyakan orang kampung.

Selama tahun 1980an, keluarga yg dianggap bermasalah ini memang sulit berjodoh dikampung. Setiap pinangan mereka selalu ditolak dengan halus. Sehingga kebanyakan mereka berjodoh dengan orang luar. Sekarang karena itu sudah dianggap tidak ada lagi dan karena silau dengan kekayaannya. Sudah banyak mereka yang dapat jodoh di kampung.(Mr.Goavan)

Wednesday, August 19, 2015

Palasik, Hantu Pembunuh Bayi


Pusako News, - Siapa yang tak kenal dengan Palasik. Minang Kabau, khususnya yang menetap di Sumatera Barat, selain mengenal rendang dan cara memasak rendang yang nikmat. Selain itu ada sebuah legenda masyarakat yang cukup terkenal seperti rendang yakni Palasik. menurut masyarakat, banyak jenis-makhluk halus yang sering menggangu, salah satunya adalah Palasik.
Kita pasti langsung tahu palasik sebenarnya adalah makhluk gaib. kononya menurut kepercayaan Melayu dan Minangkabau. padahal sebenarnya palasik ini bukanlah hantu, melainkan orang yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Pengamal imu hitam ini sangat sering menggangu dan mengincar bayi-bayi, karena bagi palasik darah bayi merupakan makanan mereka, serta amalan mereka dalam menuntut ilmu hitam.
Banyak bayi-bayi ataupun balita yang sering sakit, hal pertama yang terlintas di benak orang Minang adalah gangguan palasik. Tapi itu dulu, sekarang masyarakat Minang sudah berbeda, hal-hal seperti itu sekarang ini dianggap sebagai penyakit atau kekurangan gizi seperti makanan yang kurang sehat, ataupun penyakit lainya.
Meskipun begitu masyarakat minang tetap mengantisipasi adanya palasik yang menyerang bayi-bayi mereka, dengan cara mengonyokan atau memperlihatkan sesuatu dengan tangan, menyodorkan, kepada orang yang diduga palasik dan penganut ilmu hitam. karena menurut masyarakat setempat, hal itu akan membuat palasik tak dapat beraksi, atau cara lainya adalah jangan sampai si bayi bertemu atau terlihat oleh orang yang diduga palasik.(Mr.Goavan)

Tuesday, August 18, 2015

Kisah Orang Bunian


Pernahkah kalian mendengar kisah Orang Bunian? Ini adalah kisah kakek saya ketika saya masih kecil. Pada tahun 1970-an, kakek saya bekerja sebagai eksekutif di sebuah perkebunan kelapa sawit besar di pulau Sumatera. Perkebunan ini posisinya di sebelah selatan dari Danau Toba dengan area berbukit-bukit

Semua rumah eksekutif dibangun berjajar di atas salah satu bukit rendah. Kebetulan rumah kakek ada di urutan kedua dalam jajaran itu. Di depan rumahnya, terdapat beberapa baris pohon kelapa sawit. Lalu di depannya lagi, adalah turunan menuju lembah. Tanah itu terlalu curam untuk ditanam pohon. Oleh karena itu, di depan situ dipenuhi dengan tanaman liar dan pepohonan membentuk sebuah hutan kecil. Lembahnya sendiri penuh dengan berbagai pohon besar, serangga tropis dan tumbuhannya lainnya.

Dia masih baru di situ. Sehingga setelah selesai bekerja kembali ke rumah. Selain TV satelit tidak ada hiburan apa-apa lagi di sana. Setiap hari kerja dia akan bangun jam 5 dan mulai bekerja.

Selama pengalaman bekerjanya itulah dia mendapat pengalaman unik. Semenjak minggu pertama dia datang sini, dia baru sadar bahwa setiap hari Rabu sore selalu ada bunyi genderang ditabuh di depan rumahnya (yakni daerah hutan situ). Suara tabuhan drum ini selalu mulai tepat jam 6.30. Suara ini akan berlangsung antara setengah hingga satu jam. Suaranya selalu berhenti mendadak, sama seperti ketika mulai. Dia berpikir mungkin di sana ada suatu upacara, atau perayaan.

Ketika dia bertanya pembantu di rumahnya, apa sebetulnya itu, dia hanya menaikkan bahu dan tidak menjawab. Dia berpikir mungkin tidak sopan untuk bertanya hal-hal seperti itu, jadi tidak pernah bertanya lagi.

Ketika dia sudah cukup lama tinggal di perkebunan, dan sudah semakin akrab dengan orang-orang di sana, rasa penasaran akan suara genderang itu semakin meningkat. Setahu dia, lembah di depan rumahnya itu tidak ada bangunan atau rumah. Namun setiap hari Rabu, suara genderang selalu terdengar dari sana, cukup dekat, sepertinya datang dari lembah itu sendiri!

Akhirynya dia mencoba bertanya asisten dia. Mereka hanya tersenyum menjawab, “Itu orang Bunian pak.” Dia tidak ingin kelihatan bodoh sehingga menjawab “Oh” dan menggangguk saja. Kebetulan ada satu asisten yang sangat dekat dengan kakek. Namanya Jamal. Kakek bertanya ke dia, apa itu orang Bunian. Jamal menjawab bahwa orang Bunian ini termasuk makhluk mistis yang tidak bisa kelihatan oleh manusia. Mereka umumnya senang tinggal di dekat manusia dan kadang berhubungan dengan mereka. Bahkan ada cerita beberapa pria yang menikahi perempuan Bunian dan bergabung dengan masyarakat Bunian. Tetapi manusia yang bergabung, akan ikut tidak terlihat lagi.

Terkadang manusia bisa meminta bantuan dengan Bunian. Misalnya seseorang sedang mengadakan perjamuan dan kekurangan piring dan sebagainya, mereka bisa meminjam dari Orang Bunian. Namun piring itu harus dijaga dengan baik, dan tidak boleh ada satupun piring yang rusak.

Kakek pun bertanya, bagaimana dia bisa membuktikan kalau yang menabuh genderang ini adalah Orang Bunian? Jamal bercerita dulu dia bersama dua asisten lain sempat turun ke situ. Berbekal senter dan pisau panjang mereka bertiga menuju lembah dan berjalan menuju sumber suara. Mereka sudah berjalan cukup jauh, tetapi suara itu tetap hanya terdengar sangat dekat, tidak pernah ditemukan sumber suara. Dikarenakan hari sudah gelap, mereka pun membatalkan petualangan mereka dan bergegas pulang.

Kita bisa menemukan banyak informasi mengenai “Orang Bunian” ini dan membaca baca mengenai kisah mereka di cerita masyarakat sekitar. Saya yakin mereka ada, karena saya sudah terlalu sering mendengarkannya, dan apalagi kakek saya sendiri juga menceritakan ini ke saya (Red)


Saturday, August 15, 2015

Apa Itu Batu Batikam ?



Batu Batikam adalah salah-satu obyek cagar budaya bersejarah yang terdapat di Jorong Dusun Tuo, Nagari Lima Kaum, Kabupaten Tanahdatar, Provinsi Sumatera Barat. Jika diartikan kedalam Bahasa Indonesia, Batu Batikam berarti batu yang tertusuk.

Menurut sejarah yang berkembng, lubang tusukan yang ada di tengah batu itu merupakan bekas dari tusukan keris Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Prasasti Batu Batikam menjadi salah satu bukti keberadaan Kerajaan Minangkabau di zaman Neolitikum,

Luas situs cagar budaya Batu Batikam sekitar 1.800 meter persegi, dulu berfungsi sebagai medan nan bapaneh atau tempat bermusyawarah bagi kepala suku. Batu ini berukuran 55 x 20 x 40 sentimeter, dengan bentuk hampir segi tiga. Pada bagian tengah batu batikam terdiri dari bahan batuan Andesit. 

Susunan batu disekeliling batu batikam seperti sandaran tempat duduk, berbentuk persegi panjang melingkar. Batu batikam sekaligus menjadi saksi sejarah yang melambangkan pentingnya perdamaian, musyawarah-mufakat dalam kehidupan bermasyarakat di Minangkabau


Keunikan
Batu ini dinamakan batu batikam atau batu tertusuk adalah karena adanya bekas tusukan pada bagian batu tersebut.  Secara logika, hal ini mungkin sulit diterima dengan akal mengingat batu adalah sebuah benda padat yang sangat keras, sehingga tidak mungkin untuk ditusuk dan menyisakan sebuah lobang yang tembus.

Nemun menurut cerita dan keyakinan masyarakat setempat, Batu Batikam memang merupakan bekas tusukan keris milik Datuak Parpatiah Nan Sabatang, yang menjadikan batu batikam sebagai simbol perdamaian antar pemimpin yang berkuasa pada masa itu.

Cerita lain juga menyatakan bahwa peninggalan sejarah ini dahulu kala merupakan suatu tempat musyawarah para kepala suku. Hal lain yang menambah keunikan Batu Batikam adalah adanya sebuah pohon beringin yang sangat besar di sekitar kawasan tersebut. Selain itu, lubang pada batu batikam dapat disentuh dan dilihat langsung oleh setiap pengunjung.

Sejarah
Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan adalah dua orang saudara yang berlainan bapak. Datuak Parpatiah Nan Sabatang adalah seorang sosok yang dilahirkan dari seorang bapak yang memiliki darah aristokrat (cerdik pandai).

Sementara Datuak Katumanggungan adalah sosok yang dilahirkan dari seorang bapak yang otokrat (raja-berpunya). 

Tetapi kedua diantara mereka lahir dari seorang rahim ibu yang sama, dimana seorang wanita biasa seperti lainnya, bernama Puti Indo Jalito (Bundo Kanduang).  

Datuak Parpatiah menginginkan masyarakat diatur dalam semangat yang demokratis, atau dalam tatanannya "Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi". Namun Datuak Katumanggungan menginginkan rakyat diatur dalam tatanan yang hirarki "berjenjang sama naik, bertangga turun".  Karena perbedaan inilah akhirnya mereka bertengkar hebat.

Untuk menghindari pertikaian dan tidak saling melukai, Datuak Parpatiah dan Datuak Katumanggungan kemudian menikam batu tersebut dengan keris sebagai pelampiasan emosinya. Maka batu yang tertusuk akhirnya berlobang, dan oleh masyarakat Minangkabau disebut Batu Batikam.

Meskipun terkesan menyeramkan, namun Batu Batikam menjadi salah-satu lokasi wisata yang masih menarik minat wisatawan. Selain memiliki keunikan yag membuat wisatawan penasaran, batu ini juga mengandung nilai pelajaran, pengetahuan, dan hikmah tentang pentingnya perdamaian.

Hingga saat ini, pendapat yang berbeda antara Datuk Parpatih nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan masih terlihat dari adanya dua keselaran di Minangkabau, yakni keselarasan Koto Pilang yang mencerminkan sistem kekuasaan ala Datuk Katumanggungan, dan keselarasan Bodi Chaniago yang merupakan perwujudan sistem pemeirntah ala Datuk Parpatih Nan Sabatang. (Red)

Thursday, August 13, 2015

Kantor Wali Kota Solok


Kantor Wali Kota Solok, di Jalan Lintas Lubuk SIkarah, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok

Panen Padi di Sawah Solok


Petani menggelar panen padi di sawah garapannya, dikawasan Sawah Solok, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok. Produksi padi akhir-akhir ini cenderung tak stabil menyusul datangnya cuaca ekstrem, disertai hama tikus.