Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

Thursday, March 24, 2016

Sujundai



Kali ini kami akan kembali membagikan sebuah pusako usang Minangkabau, namanya adalah Sijundai. Sijundai dalam istilah yang mudah difahami adalah makluk halus pengirim guna-guna. Akibat serangan sijundai, akhirnya prilaku manusia yang dituju segera hilang kesadaran. Mulai dari tata cara bicara, tindakan diluar batas kesadaran manusia.

Basijudai juga boleh dikatakan tindakan diluar batas kesadaran, korban bisa menangis, tertawa, tanpa sebab tetapi bukan gila. Maka masyarakat Minangkabau sejak dahulunya menyebutnya kanai sijundai.

Prilaku aneh sijundai biasanya menimpa anak gadis, ataupun anak bujang, serta penyebabnya cenderung berkaitan erat dengan hubungan percintaan. Baik karena hubungan tidak lancar atau kena tolak, dicaci dan diaki. Prilaku tersebut muncul karena ditolak, dicaci, atau dikhianati seseorang hingga berujung dendam.

Dendam yang tak terbalaskan akhirnya dilampiaskan dengan cara ini. Akibatnya orang yang mendapat kiriman  sijundai baik bujang atau gadis akan berperilaku seperti orang gila, menangis, tertawa sendiri, berteriak, menarik-narik rambut, dan yang paling popular- memanjat dinding. 

Pekerjaan ini biasanya dilakukan dukun, paranormal pada malam hari. Bila dukun bisa mempengaruhi korbannya, maka korban akan berjalan menemui dukun atau orang lain yang meminta  dukun melakukan hal demikan. Di antara isi mantra dukun itu berbunyi; “jika  korban sedang tidur suruh ia bangun, kalau sudah bangun suruh duduk, jika duduk  suruh berjalan, berjalan untuk menemui aku”, Penyakit magis yang juga disebabkan oleh serangan gasing tangkurak ini lazim disebut Sijundai.

Secara sosial sijundai bekaitan dengan fenomena magic. Perkataan yang terlalu menyakitkan, atau tersinggung juga menjadi pemicu kiriman sijundai dari orang yang disakiti. Zaman yang serba modern ini, sijundai tidak akan pernah lepas selaku tingkah laku yang tidak dijaga. Dala bahasa jawa kena santet atau kena guna-guna Secara lanjut, sijundai ini menjadi penyakit yang susah untuk disembuhkan, seakan-akan penyakit keturunan.

Biasanya keluarga yang kena sakit sijundai ini mendapat sangsi sosial dalam masyarakat. Dalam hal perjodohan akan sulit mendapatkannya. Sebagai mana dalam kiasan kuriak induaknyo rintiak anaknyo.

Lain lagi penyebutan berbagai daerah terhadap ilmu ini, ada juga gasing tangkurak, atau sirompak. Ilmu magis yang memanfaatkan gasiang tengkurak untuk menimbulkan penyakit sijundai yang merupakan ilmu jahat yang dijalankan melalui persekutuan dengan syetan. Ilmu ini beredar luas dan dikenal oleh masyarakat di pedesaan Minangkabau pada umumnya.

Hal ini misalnya terlihat pada popularitas lagu Gasiang Tangkurak  ciptaan Syahrul Tarun Yusuf dinyanyikan oleh Elly Kasim, seorang penyanyi Minang legendaris. Dalam lirik ini untuk mebalaskan dendam maka dikrimlah sijundai. Gasiang tangkurak biasanya digunakan membalas dendam. Ukuran harga yang lazim digunakan adalah emas. Sebagai syarat  pengobatan, biasanya dukun meminta emas dalam jumlah tertentu sebagai tanda, bukan upah.

Tanda ini akan dikembalikan jika sang dukun gagal dalam menjalankan tugasnya. Tetapi kalau ia berhasil, maka uang tanda ini diambil, dan pemesan harus menambahnya dengan uang jasa. Selain untuk menyakiti, ada dukun tertentu yang menggunakan gasiang tangkurak untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh hal-hal magis yang lainnya, gasiang sering juga dipakai sebagai media untuk mensugesti orang lain menjadi tertarik pada diri kita. Ilmu terakhir ini biasa disebut Pitunang.

Dalam sejarahnnya Jelas bahwa, (Marzam) manusia turut menggunakan jalan yang singkat untuk memecahkan permasalahan mereka seperti yang terjadi terhadap pemuda miskin yang dihina oleh perempuan cantik yang kaya yang juga memperlihatkan keterbatasan akal dan fikiran manusia serta keyakinannya yang kuat terhadap hal-hal yang supranatural dengan mengamalkan hal-hal yang magis.

Amalan ritual magis seperti ini menjadi popular di kalangan pemuda yang menyatakan cintanya kepada seorang perempuan dan tidak dibalas dengan baik, maka cintanya yang ditolak atau dihina membuatkan mereka berjumpa dan meminta bantuan kekuatan ghaib. Baik sijundai, gasiang tangkurak, atau sirompak merupakan ritual balas dendam kerena cinta yang tak sampai karena buruk rupa, miskin, atau ken hina maupun cacian. (red)

Gasiang Tangkurak




Ampuh, Mematikan Musuh

Hampir setiap  daerah di indonesia memiliki ilmu kebathinan, ilmu magis yang khas, diimplementasikan lewat serangkaian ritual khusus.  Di minangkabau juga ada ilmu magis, yaitu ‘Gasiang Tangkurak’. Konon serangan Gasiang Tangkurak (gasing tengkorak) ala Minangkabau sangatlah ditakuti hingga keberbagai pelosok negeri. Bagaimana kisahnya ?  

Laporan—  Pusako News

Kebetulan dalam menjalankan ilmu kebathinan ini harus menggunakan median khusus, yakni kepingan tengkorak kepala mayat manusia.  Masyarakat Minang Lazim menggunakan ilmu tersebut  untuk menyerang musuh secara gaib, sekaligus ilmu tersebut juga bisa untuk tujuan lain seperti pengobatan. Gasiang tangkurak bentuknya mirip dengan gasiang seng yang pipih,  Cuma saja bahannya dari tengkorak manusia. 

Gasiang seperti ini hanya bisa dimainkan  oleh dukun, orang yang memiliki kemampuan magis. Sambil memutar gasiang, dukun  membacakan jampi-jampi/ mantra. Pada saat yang sama, orang yang menjadi sasaran akan  merasakan sakit, gelisah dan melakukan tindakan layaknya orang sakit jiwa.

Misalnya,  berteriak-teriak, menarik-narik rambut, dan yang paling popular- memanjat dinding.  Pekerjaan ini biasanya dilakukan pada malam hari. Bila dukun bisa mempengaruhi  korbannya, maka korban akan berjalan menemui dukun atau orang lain yang meminta  dukun melakukan hal demikan. Di antara isi mantra dukun itu berbunyi, jika  korban sedang tidur suruh ia bangun, kalau sudah bangun suruh duduk, jika duduk  suruh berjalan, berjalan untuk menemui seseorang, Penyakit magis yang disebabkan oleh gasing tangkurak ini lazim disebut Sijundai.

Ilmu magis yang memanfaatkan gasiang tingkurak untuk menimbulkan penyakit sijundai yang merupakan ilmu jahat yang dijalankan melalui persekutuan dengan syetan. Ilmu ini beredar luas dan dikenal oleh masyarakat di pedesaan Minangkabau pada umumnya. Hal ini misalnya terlihat pada popularitas lagu Gasiang Tangkurak  ciptaan Syahrul Tarun Yusuf dinyanyikan oleh Elly Kasim, seorang penyanyi Minang legendaris.

Gasiang tangkurak biasanya digunakan membalas dendam. Seseorang datang kepada sang dukun untuk menyakiti seseorang dengan sejumlah bayaran. Ukuran harga yang lazim digunakan adalah emas. Sebagai syarat  pengobatan, biasanya dukun meminta emas dalam jumlah tertentu sebagai tanda, bukan upah. Tanda ini akan dikembalikan jika sang dukun gagal dalam menjalankan tugasnya. Tetapi kalau ia berhasil, maka uang tanda ini diambil, dan pemesan harus menambahnya dengan uang jasa.

Selain untuk menyakiti, ada dukun tertentu yang menggunakan gasiang tangkurak untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh hal-hal magis. Yang lainnya, gasiang sering juga dipakai sebagai media untuk mensugesti orang lain menjadi tertarik pada diri kita. Ilmu terakhir ini biasa disebut Pitunang.

Sesuai dengan namanya, bahan utama gasiang tangkurak adalah tengkorak manusia yang sudah meninggal. Gasiang ini hanya bisa dibuat oleh orang yang memiliki ilmu batin tertentu. Pada berbagai daerah terdapat beberapa perbedaan menyangkut bahan tengkorak yang lazim dan paling baik digunakan sebagai bahan pembuat gasing tangkurak. Pada beberapa daerah, tengkorak yang biasa digunakan adalah tengkorak dari seseorang yang mati berdarah.

Daerah yang lain lebih menyukai tengkorak dari orang yang memiliki ilmu batin yang tinggi khususnya untuk pengobatan, sedangkan daerah yang lain lagi percaya bahwa tengkorak dari wanita yang meninggal pada saat melahirkan merupakan bahan paling baik. Bahkan pada daerah tertentu, seorang informan menyebutkan bahwa tengkorak yang paling baik adalah tengkorak anak-anak yang telah disiapkan sejak kecil. Anak itu dibawa ke tempat yang sunyi, kemudian dipancung. Tengkorak yang masih berdarah itulah yang dijadikan bahan untuk gasiang tengkorak.

Bagian tengkorak yang digunakan adalah pada bagian jidat. Pada hari mayat dikuburkan, dukun pembuat mendatangi kuburan, menggali kubur dan mayatnya dilarikan. Tengkorak yang diambil adalah pada bagian jidat, karena dipercaya pada bagian inilah terletak kekuatan magis manusia yang meninggal. Ukuran tengkorak yang diambil tidak terlalu besar, kira-kira 2 X 4 cm. Saat mengambil tengkorak mayat, dukun membaca mantra khusus sambil menyebut nama si mayat.

Setelah diambil, jidat itu dilubangi dua buah di bagian tengahnya. Saat terbaik untuk membuat lobang adalah pada saat ada orang yang meninggal di kampung tempat pembuat gasiang berdomisili. Saat demikian dipercaya akan memperkuat daya magis gasiang. Kemudian pada kedua lubang itu dimasukkan benang pincono, atau benang tujuh ragam. Gasiang dan benang itu kemudian diperlakukan secara khusus sambil memantra-mantrainya. Gasiang itulah kemudian yang digunakan untuk menyakiti orang.

Ada lagi jenis gasiang lain, yang fungsinya hampir sama dengan gasiang tingkurak. Gasiang ini terbuat dari limau puruik ( Citrus hystrix ) dari jenis yang jantan dan agak besar. Pada limau itu dibacai mantra-mantra. Limau purut ditaruh di atas batu besar, kemudian dihimpit dengan batu besar yang lain. Batu itu sebaiknya berada di tempat terbuka yang disinari cahaya matahari sejak pagi hingga petang. Sebelum dihimpit dengan batu, dibacakan mantra. Limau dibiarkan hingga kering benar, setelah itu baru dibuat lobang ditengahnya. Ke dalam lobang itu digunakan banang pincono, atau benang tujuh warna.

Gasiang jenis ini biasanya dipakai untuk masalah muda-muda dan pengobatan. Pemakaian gasiang ini menggunakan perhitungan waktu tertentu yang didasarkan pada pembagian waktu takwim. Untuk kepentingan muda-mudi, waktu yang lazim dipakai adalah waktu Zahrah, sedangkan untuk pengobatan dilakukan pada waktu Syamsu. Untuk tujuan baik, tidak ada pantangan saat menggunakan gasiang. Tetapi untuk hal yang jahat, maka pengguna harus menghindari seluruh hal yang berkaitan dengan jalan Tuhan harus dihindari. (Red)

(Dikutip dari: http://www.indospiritual.com/artikel_mengenal-gasiang-tangkurak-ilmu-magis-asal-minangkabau.html#sthash.M5pBnnWx.dpuf)

Suku Anak Dalam Masuk Solok




Berburu Biawak, Ambil Buah di Pasar

"Jangan meludah, Kota Solok kedatangan tamu" demikian warga Kota Solok satu sama lain saling memperingatkan begitu melihat rombongan Suku Anak Dalam (SAD) masuk Solok, alias orang kubu. Mereka diketahui muncul dari kawasan pedalaman hutan Jambi – Dharmasraya.  Konon  ritual perjalanan mencari tanah leluhur ini dijadwalkan berlangsung tiga bulan, dan akan berakhir di Solok Selatan, sebelum akhirnya memulai kehidupan baru di bibir hutan Taman Nasional  Kerinci Sebelat (TNKS). Lantas, apa saja kegiatan,cerita mereka selama singgah di Kota Solok ?
 
Pusako News— Solok

Karena bukan pemandandagan lazim, kehadiran sekelompok anak dalam (suku Kubu) sepanjang Jumat – sabtu (4-5/3) turut mengundang perhatian warga, sekaligus menjadi bahan tontonan  segenap lapisan masyarakat. Mereka berjumlah 17 orang, berpenampilan acak-acakan, tanpa alas kaki, plus menjujung bungkusan karung plastik yang berisi entah apa.

Jika dilihat,  mereka berusia antara 10 – 50 tahun, sejumlah ibu-ibu pengikut rombongan tak mau lepas menggendong balita di pangkuannya yang bertelanjang bulat, kaum bapak antusias menjujung bungkusan seraya melindungi anggota keluarganya. Panasnya terik mentari tidak dihiraukan, mereka  terus melakukan apa saja yang menurut mereka benar,  dan berjalan sesuai petunjuk pimpinan rombongan.

Sesekali mereka berhenti, berkumpul di trotoar, di halaman rumah pinggir jalan, dan tanpa permisi memetik buah untuk dimakan, sisanya dimasukan ke dalam karung plastik. Cekalanya, kadang buah yang mereka petik malah  mengundang kemarahan dari pemiliknya, bahkan mencaci maki.  Namun setiap kali fenomena tersebut terjadi, mereka yang tak tahu apa - apa hanya tersenyum tulus, lalu pergi meninggalkan lokasi.

Saat dijumpai di ujung jembatan KTK, Kecamatan Lubuk Sikarah, rombongan misterius ini kebetulan sedang beristirahat, sejumlah perempuan dewasa berselonjor di trotoar, laki-laki dewasa menatap ke arah dasar sungai. Pengguna jalan yang berlalu-lalang dibuat mendadak berhenti, bahkan tak ketinggalan mengeluarkan ponsel dari celana untuk memotret.

“Jangan sampai meludah pak ! mereka rombongan orang kubu, punya ilmu kebatinan yang luar biasa. Sempat meludah, pasti kualat, atau bisa  mengikut dengan mereka,” pesan salah-seorang bapak pada temannya yang ikut berhenti menyaksikan pemandangan gratis tersebut.

Entah iya atau tidak, begitu mendapat nasihat, lantas  dua pria muda tadi langsung saja mengangguk, sekaligus memaklumi sekian banyak larangan-pantangan sebagaimana dijelaskan  bapak paruh baya yang berdidi persis disampingnya. Yang tak kalah penting, jangan pula mengeluarkan kalimat menyinggung, menyindir, apalagi menghina, dan mencaci maki.

“Lihat saja lah, jangan banyak bertanya soal ini dan itu, ntar bisa menyinggung perasaan,” ingat seorang warga pula pada ibu-ibu yang berboncengan dengan sepeda motor suaminya.

Diawasi Danramil, Sempat Ambil Buah Pasar, Berburu Biawak
Kedatangan Suku Anak Dalam di Kota Solok juga seketika mendapat pengawasan  dari Danramil 04 Kubung, Capt Tarmizi didampingi babinsa, setelah sebelumnya kelomopok suku kubu tersebut dilaporkan sempat meresahkan, mengambil bahan dagangan berupa sayuran dan buah di Pasar Solok, Bahkan juga diinformasikan tanpa permisi memetik buah-buahan di depan rumah warga.

“Walau bagaimanapun juga mereka tetap saudara kita. Terkait adanya laporan terkait tindakan yang meresahkan, itu terjadi karena mereka tidak tahu akan hukum, aturan, lantaran selama ini terasing tinggal di hutan,” kata Capt Tarmizi.

Untuk mengantisipasi hal-hal tak diinginkan, Capt Tarmizi telah mencoba menfasilitasi menyediakan kendaraan bagi kelompok tak lazim tersebut menuju daerah tujuannya, namun kelompok anak dalam  menolaknya dengan alasan melanggar aturan dan ketentuan adat. Sebagai solusi, terpaksa dilakukan pengawasan dari jauh.

“Kami sudah mencoba berunding dengan ketua rombongan, bernama Amat, 60, namun mereka bersikukuh  melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Solok Selatan,” Imbuh Tarmizi.


Ritual Mencari Tanah Leluhur
Dari keterangan pimpinan rombongan, Amat,60, perjalanan melelahkan itu adalah sebuah ritual wajib bagi Suku Anak Dalam, bertujuan membuang sial, setelah sebelumnya sejumlah anggota keluarganya meninggal dunia. Untuk memulai kehidupan baru, dilakukan perjalanan selama tiga bulan yang disebut “mencari tanah leluhur”.

Adapun anggota dalam rombongan seluruhnya berjumlah 17 orang, 4 perempuan, 3 balita, 6 anak-anak, serta laki-laki dewasa dan lanjut tua. Akibat minimnya ketersediaan makanan selama perjalanan, diantaranya  sudah mulai kelelahan, badan kurus kering, anak-anak bahkan mengaku telah  kecapean.

“Demi keselamatan serta tersedianya perbekalan yang cukup, Koramil 04 Kubung memberikan bantuan makanan untuk suku Anak Dalam tersebut, dan selama dalam perjalanan akan terus dipantau,” timpal Danramil.

Menurut penuturan Amat, selama tiga hari berada di Solok,  rombongan laki-laki telah berburu biawak di sepanjang sungai Batang Lembang, sampai akhirnya  mengumpulkan  17 ekor biawak.  Biawak ternyata termasuk makanan paling digemari suku Anak Dalam, bagian dagingnya  dibakar, sementara kulit dijadikan bahan pakaian.

Keluarga kami sudah banyak mati, kampung habis terbakar dijadikan ladang oleh orang datang,” Babi, rusa, ayam sebagai sumber makanan  sulit bisa didapat, sampai akhirnya tiba seruan ghaib untuk segera membuang sial, sekaligus mencari tanah leluhur,” cerita Amat pada Danramil. (red)      


Wednesday, August 19, 2015

Palasik, Hantu Pembunuh Bayi


Pusako News, - Siapa yang tak kenal dengan Palasik. Minang Kabau, khususnya yang menetap di Sumatera Barat, selain mengenal rendang dan cara memasak rendang yang nikmat. Selain itu ada sebuah legenda masyarakat yang cukup terkenal seperti rendang yakni Palasik. menurut masyarakat, banyak jenis-makhluk halus yang sering menggangu, salah satunya adalah Palasik.
Kita pasti langsung tahu palasik sebenarnya adalah makhluk gaib. kononya menurut kepercayaan Melayu dan Minangkabau. padahal sebenarnya palasik ini bukanlah hantu, melainkan orang yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Pengamal imu hitam ini sangat sering menggangu dan mengincar bayi-bayi, karena bagi palasik darah bayi merupakan makanan mereka, serta amalan mereka dalam menuntut ilmu hitam.
Banyak bayi-bayi ataupun balita yang sering sakit, hal pertama yang terlintas di benak orang Minang adalah gangguan palasik. Tapi itu dulu, sekarang masyarakat Minang sudah berbeda, hal-hal seperti itu sekarang ini dianggap sebagai penyakit atau kekurangan gizi seperti makanan yang kurang sehat, ataupun penyakit lainya.
Meskipun begitu masyarakat minang tetap mengantisipasi adanya palasik yang menyerang bayi-bayi mereka, dengan cara mengonyokan atau memperlihatkan sesuatu dengan tangan, menyodorkan, kepada orang yang diduga palasik dan penganut ilmu hitam. karena menurut masyarakat setempat, hal itu akan membuat palasik tak dapat beraksi, atau cara lainya adalah jangan sampai si bayi bertemu atau terlihat oleh orang yang diduga palasik.(Mr.Goavan)

“Orang Pendek” Sumatera: Manusia atau Kera? Banyak saksi melihatnya di hutan Sumatera. DNA mirip manusia?


Pusako News, --Hampir setiap hari para polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, berjalan kaki menyusuri hutan perawan di wilayah seluas 125 ribu hektar. Itu tugas rutin, berpatroli mengawasi tiga area besar taman konservasi, Way Kanan, Way Bungur, dan Kuala Penet.  Setiap area itu dibagi lagi menjadi empat resor. 

Mereka menjaga taman nasional dari pembalakan liar, atau perburuan liar. Hutan di Way Kambas adalah tempat konservasi badak, harimau sumatera, dan juga gajah. Di sana bahkan ada sekolah gajah pertama di Indonesia.

Sekali patroli, para polisi hutan itu bisa berjalan kaki selama dua pekan, atau bahkan sebulan. “Mereka membawa makanan, dan juga tenda”, ujar juru bicara Taman Nasional Way Kambas, Sukatmoko kepada VIVAnews.   

Tapi satu regu patroli di resor Rawa Bunder, Way Kanan, menemukan hal mengejutkan pada Ahad, 17 Maret 2013 lalu. Di petang hari itu, di saat tubuh mulai lelah, tujuh polisi hutan terperangah: ada sekelompok makhluk mirip manusia namun ukurannya lebih kecil melintas di rawa.

Mereka sontak terkesiap. Para polisi hutan dan kelompok “orang pendek” itu berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 30 meter.  Kaget, dan tak menyangka bersua makhluk aneh, para polisi hutan itu terpacak diam. Hening. Sekejap kemudian, gerombolan “orang pendek” itu berlari masuk ke dalam rimbun hutan. Hilang.

Barulah para polisi hutan sadar, seharusnya mereka mengabadikan gambar “orang-orang pendek” itu. Mereka hanya bisa mengingat “orang-orang pendek” itu bertelanjang, sebagian memegang kayu berbentuk tombak, dan bahkan ada yang menggendong bayi. Diduga saat itu, mereka sedang mencari ikan atau mencari air minum.

Penasaran dengan apa yang mereka lihat, tiga hari kemudian, grup itu kembali berpatroli di tempat sama. Tim sengaja memilih waktu persis saat mereka bertemu makhluk aneh, menjelang malam. Dan betul, “orang-orang pendek” yang dihitung lebih dari sepuluh orang itu terlihat lagi. “Suasana dan lokasinya sama saat petugas patroli melihat yang pertama dan yang kedua,” kata Sukatmoko. Namun, lagi-lagi, polisi kalah cepat memotret mereka.

Dari penampakan kedua ini, tim memastikan, penampilan “orang-orang pendek” itu seperti manusia purba. “Mereka tidak memakai baju, berambut gimbal panjang dan memegang tombak kayu panjang. Tidak bisa juga dibedakan yang masih dewasa atau anak-anak, namun petugas kami melihat ada di antaranya seperti yang perempuan sedang menggendong bayi,” Sukatmoko menambahkan.

Hari itu juga, polisi hutan Taman Nasional memasang 15 kamera pengintai bersensor inframerah di sekitar lokasi itu. Kamera ini biasa digunakan untuk menangkap gambar aktifitas satwa liar, dan bisa menangkap objek bergerak yang melewatinya baik siang maupun malam.

“Nanti kalau sudah ada bukti secara visual kami baru bisa bicara. Karena selama ini kami hanya mengandalkan bukti penglihatan mata petugas, maka kami saja belum berani melaporkannya ke kementerian kehutanan secara resmi,” kata Sukatmoko.

Ini sebetulnya bukan kali pertama “orang-orang pendek” itu terlihat. Pada 1995, satu regu pendaki di Gunung Singgalang pernah bersua dengan makhluk serupa yang dilihat para polisi hutan di Way Kambas.  Denni, seorang anggota pendaki itu, menghubungi VIVAnewssetelah berita temuan “orang-orang pendek” itu dimuat di media. “Saya pernah melihat ‘orang pendek’”, ujarnya.

Dia berkisah, pada suatu pagi,  dia mendaki gunung setinggi 2.887 meter itu. Sekitar pinggang gunung, di sebuah kawasan yang agak datar, tiba-tiba Denni dan temannya kaget campur takjub melihat sepasang makhluk seperti monyet tapi berjalan dengan dua kaki. Tangannya mengayun khas seperti manusia. “Bulunya berwarna emas, berjalan tegak, berpegangan tangan,” kata Denni. Denni dan temannya berhenti berjalan, lalu mengamati.

Tinggi makhluk tak berekor itu sepinggangnya atau kira-kira 1 meter. Sepasang makhluk itu berjalan kira-kira 30 meter di dekat mereka berdua. Semua badannya berbulu, kecuali mukanya. Bulu di kepalanya sedikit lebih panjang. “Mukanya agak rata,” kata Denni.

Meski perawakan seperti manusia, namun bulu tipis di sekujur badannya membuatnya tampak lebih seperti monyet daripada manusia, kata Denni.

Karena tak pernah melihat makhluk macam itu sebelumnya, Denni yang menenteng kamera saku pun bergerak cepat hendak memotret. Namun seperti tahu mau dipotret, kedua makhluk itu bergerak lebih cepat, menghilang di balik rimbun pepohonan. Dia gagal mengambil gambar dari temuan langka itu.

“Orang Pendek” Kerinci

Tapi Deborah Martyr, perempuan peneliti asal Inggris yang beberapa kali menyaksikan ”orang pendek” di Taman Nasional Kerinci Seblat, meragukan makhluk yang dilihat polisi hutan di Way Kambas adalah “orang pendek” yang sama.

Debbie, begitu panggilan perempuan itu, menyatakan “orang-orang pendek” yang dilihatnya di sejumlah hutan di Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat umumnya soliter, tidak bergerombol lebih dari tiga orang.

“Saat melihat ‘orang pendek’, dia hanya sendiri. Tidak pernah saya melihat mereka berkelompok hingga belasan,” kata Pemimpin Tim Fauna & Flora International's Tiger Protection & Conservation Units di Sumatera itu.

Perkenalan Debbie dengan “orang pendek” dimulai dari tahun 1989, ketika dia saat itu bekerja sebagai jurnalis sebuah media di Inggris, dan berlibur ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Saat itu, Debbie mendengar kisah Orang Pendek. Dia pun penasaran. Namun baru tahun 1994, Debbie bersama Jeremy Holden dari Fauna dan Flora International-IP dan Achmad Yanuar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menggelar Project Orang Pendek.

“Awalnya saya juga beranggapan sama, itu hanya mitos. Namun setelah melihat, saya yakin itu bukan mitos,” katanya saat diwawancara jurnalis VIVAnews, Eri Naldi dan Arjuna Nusantara, di kediamannya di Sungai Penuh, Jambi, Rabu 27 Maret 2013.

Debbie pertama kali melihat “orang pendek” tahun 1994 di kawasan Gunung Tujuh dan kemudian di Gunung Kerinci, masih di Taman Nasional Kerinci Seblat. Tahun 1995, saat memasuki bagian Sumatera Barat dari taman nasional itu, di Solok Selatan, kembali Debbie melihat makhluk soliter ini. Tahun itu juga dia kembali menyaksikan makhluk itu di hutan lindung di perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara. Terakhir, pada 1996, Debbie melihatnya lagi di sebuah hutan produksi di Mukomuko, Bengkulu, dan di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Namun tak satu pun yang berhasil dipotretnya. Padahal mereka sudah memakai kamera pengintai paling canggih yang biasa memotret harimau sumatera. Alhasil, tim penelitian ini lebih banyak mengandalkan penelitian berdasarkan pandangan mata saksi, termasuk mereka sendiri.

 “Badannya agak besar, tinggi sekitar 130 cm. Warna kulitnya madu tua, bulu di kepala sedikit tebal. Perawakan wajahnya hampir sama dengan orangutan tapi tidak mirip dengan manusia,” kata Debbie menceritakan ciri-cirinya, mirip seperti yang dilihat Denni di Gunung Singgalang.

Yanuar yang meraih gelar master dari Universitas Cambridge, Inggris, atas penelitian primata di Kerinci ini juga mengalami hal yang sama, hanya bisa melihat namun tak bisa mengabadikan gambar “orang pendek” ini. Bahkan Yanuar lebih dulu melihat “orang pendek” ini daripada Debbie. Kali pertama, seperti diungkapkannya dalam sebuah laporan terkait Project Orang Pendek, adalah di Provinsi Lampung di tahun 1993.

 “Jelas sekali berjalan dengan dua kaki, memperlihatkan ayunan tangannya,” kata Yanuar. “Warna (bulu)nya coklat agak keemasan.”

Meski tak mendapatkan gambar meyakinkan, Project Orang Pendek ini berhasil mengumpulkan spesimen rambut, feses, jejak telapak kakinya, serta bentuk pemukimannya. Rambutnya kemudian ada yang dikirim ke Inggris untuk diekstrak DNA-nya. Jejak kaki juga dicetak, memperlihatkan lekuk seperti telapak kaki manusia, namun lebih pendek, lebih lebar dan jempolnya agak besar dan mencelat.

“Jempol menonjol keluar dan beban sepertinya dibagi rata untuk menghasilkan kombinasi kera besar dan manusia. Saya mencatat beberapa persamaan, berdasarkan bentuk kaki,” Yanuar menulis di laporan riset.

Satu kali, dalam riset lapangan, tim sempat mendapatkan feses segar “orang pendek”. Baunya seperti feses manusia. Analisis atas feses ini, disimpulkan orang pendek itu adalah omnivora meski lebih banyak memakan sayur, buah-buahan dan akar-akaran. Orang pendek juga memangsa serangga seperti ulat pohon dan larva. “Tapi sepertinya dia tidak makan cabai,” kata Debbie lalu tertawa.

Kemudian tim juga mengumpulkan hasil wawancara dengan penduduk yang pernah bertemu makhluk itu. Narasumber ini macam-macam pekerjaannya, 57 persen petani, 18 persen pemburu atau pengumpul gaharu, 14 persen pegawai pemerintah, 4 persen ahli kehutanan dan lainnya sekitar 8 persen.

Ada variasi penampakan “orang pendek” di mata narasumber riset. Ada yang melihatnya berjalan dengan empat kaki, tapi umumnya dua kaki. Tapi semuanya konsisten melihat makhluk ini berjalan di atas tanah, tak ada yang melayang dari pohon ke pohon seperti dilakukan kera, beruk atau orangutan.

Sementara warna bulu di badannya, umumnya berwarna coklat meski ada sedikit yang melihatnya kemerahan atau keemasan. Bulu di kepala lebih panjang dan tebal, sementara di bagian dada dan perut lebih tipis sehingga memperlihatkan warna kulit mereka.

Umumnya mereka ditemui sedang berjalan, kemudian makan, dan sedikit yang bertemu sedang berbaring. Sementara tinggi badan, ada yang melihat di bawah 1 meter, namun ada yang sampai 130 sentimeter.

Narasumber ini tersebar di sepanjang Bukit Barisan dari utara Sumatera Barat sampai ke selatan Bengkulu, baik dari dataran rendah sampai pegunungan di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Penamaannya pun beragam.

Di Sumatera Barat, “orang pendek” itu juga dikenal sebagai Si Bigau. Di Jambi sendiri, selain disebut Uhang Pandak (dialek lain dari ‘Orang Pendek’), juga disebut Antu Pandak dan Si Gugu.

William Marsden, yang menghabiskan masa mudanya di Sumatera antara tahun 1754 sampai 1836, sudah menyinggung soal Si Gugu ini dalam bukunya berjudul “History of Sumatra”. Dalam buku edisi tahun 1811, Marsden yang juga dari Inggris menceritakan bahwa di antara Palembang dan Jambi, ada dua suku yang hidup di hutan yakni suku Kubu dan Gugu. Gugu, dijelaskan Marsden, kecil dan berbulu di sekujur tubuhnya.

Seorang warga Sungai Penuh, Kerinci, Iskandar Zakaria, adalah salah satu warga yang percaya dengan keberadaan Orang Pendek. Di tahun 1990-an akhir, Iskandar yang kini berusia 71 tahun melihat betul Orang Pendek. Saat itu, Iskandar memang sengaja menjelajah hutan di kaki Kerinci dengan niat mencari makhluk legenda itu.

Di hari ketiga pencariannya, menjelang Subuh, Iskandar yang saat itu mau buang air besar di pinggir sungai di sebuah perkebunan melihat yang dicari-carinya. Orang Pendek terlihat turun dari bukit menuju sungai. "Saya terkejut dan hanya bisa diam saja. Karena, Uhang Pandak itu berjalan tepat di hadapan saya. Pada saat itu jaraknya hanya sekitar dua atau tiga meter saja dari saya," katanya.
  
"Pada saat melintas di depan saya, Uhang Pandak ini melirik saya. Kejadian itu cepat sekali. Karena, setelah melintas di hadapan saya, Uhang Pandak hilang ke dalam hutan lagi," katanya.
  
Dari pengamatan itulah, Iskandar menyatakan, wajah Orang Pendek sama sekali tidak menyerupai manusia. Sekujur tubuh mahluk dengan ketinggian sekitar 80 sentimeter ini ditutupi bulu seperti orangutan. Dan satu hal lagi, dia berjalan dengan telapak kaki ke depan, bukan terbalik seperti selama ini menjadi mitos di masyarakat

"Tempat tinggal Uhang Pandak ini semak rimbun. Makanannya kulit kayu yang ada di hutan. Karena, dari yang saya temui di sekitar tempat tinggal Uhang Pandak ini banyak bekas kupasan kulit kayu," katanya.

Kera atau Orang?

“Mereka tergolong primata, bukan manusia,” kata Debbie yakin, saat ditanya soal klasifikasi “Orang Pendek” ini. Orang Pendek, kata Debbie, adalah primata yang belum tercatat dalam ilmu pengetahuan.

“Asumsi saya dia lebih dekat ke Siamang. Mereka tidak berkelompok tapi tumbuh dalam keluarga kecil—satu ibu dan anak-anak tanpa pejantan.” Karena asumsi inilah Debbie meragukan gerombolan yang di Way Kambas adalah “Orang Pendek” yang sama dengan yang ditelitinya bertahun-tahun.

David Chivers, ahli primata dari Universitas Cambridge, telah menganalisis jejak telapak kaki yang dikumpulkan Debbie dan kawan-kawan. “Sangat tak biasa, karena mereka merupakan campuran karakter dari semua jenis kera dan manusia,” kata Chivers seperti dilansir majalahEdge Science edisi #7, April-Juni 2011. “Mereka punya jari yang lebih pendek, hampir seperti manusia.” Antropolog biologis dari Universitas Idaho, Jeff Meldrum, juga melihat jejak kaki itu menandakan bipedalisme atau berjalan dengan dua kaki.

Sementara analisis atas DNA rambut, ahli hewan Hans Bruner dari Universitas Deakin, Australia, menyatakan rambut itu milik primata tak dikenal. Tahun 2010, jebolan genetika Universitas Oxford Tom Gilbert melakukan tes DNA sendiri atas rambut tersebut. Peneliti di Centre for GeoGenetics, bagian dari Natural History Museum of Denmark, itu menyatakan DNA makhluk itu adalah manusia, atau setidaknya berhubungan dekat dengan manusia. Jika pendapat ini diterima, “orang pendek” bisa berdiri sejajar dengan Homo neanderthal, Homo floresiensis dan Homo sapiens alias masuk jajaran “manusia”.

Lembaga riset genetika di Indonesia, Eijkman Institute for Molecular Biology sendiri skeptis dengan status manusia atas “orang pendek” ini. Deputi Direktur Lembaga Eijkman  Prof Herawati Sudoyo menyatakan, pertanyaan soal genetika “orang pendek” belum bisa dijawab karena tak ada gambar yang jadi bukti keberadaan mereka. Jika keberadaannya sudah pasti, barulah kemudian bisa lanjut kepada pengambilan sampel DNA, kata Herawati.

Soal gambar dan habitat “orang pendek” inilah yang menjadi pekerjaan bertahun-tahun sejumlah pemerhati flora dan fauna. Fauna Flora International (FFI) yang melakukan monitoring harimau sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat belum pernah mendapat gambar “orang pendek” dari seratusan kamera trap yang terpasang di enam lokasi sejak tahun 2004.

“Jika memang ada, mungkin sudah tertangkap kamera pengintai kami,” ujar Yoan Dinata, Manager FFI areal Sumatera Barat pada VIVAnews.

 “’Orang pendek’ itu sepertinya punya kemampuan mendeteksi benda listrik,” kata Suwandi Ahmad, yang pernah membantu dokumentasi tim Debbie saat mengumpulkan data “orang pendek”. “Indra pendengaran dan penciuman mereka sepertinya tajam sekali,” kata Suwandi.

Dia lalu menceritakan sebuah kisah unik seorang fotografer alam bebas yang sudah delapan bulan mengikuti Debbie, berusaha memotret “orang pendek”. “Setelah delapan bulan, pada suatu saat, baterai kameranya habis, dia lalu mengganti baterenya,” kata Suwandi. “Saat itulah, beberapa “orang pendek” datang mengerubungi fotografer itu. Dia gemetaran saat mengisi baterai, namun ketika sudah terisi, ‘orang pendek’nya pergi lagi. Seminggu lamanya setelah itu si fotografer ngambek,” kata Wandi tertawa.

Dosen Biologi Universitas Andalas, Dr. Wilson Novarino, salah satu ilmuwan yang yakin akan keberadaan “orang pendek”, menyebut insting makhluk menghindari dari manusia itu mungkin bagian dari kunci survivalnya. “Karena kondisinya yang sangat sensitif dan tidak mau bertemu manusia, bisa jadi populasinya semakin mengerucut,” kata Wilson.

Orang Pendek, kata Wilson, sangat besar kemungkinan salah satu dari banyak hewan yang masih misterius. Hingga kini baru 1,9 juta spesies telah teridentifikasi. Dalam studi yang dipublikasikan Selasa, 23 Agustus 2011 di jurnal PLoS Biology, ilmuwan menghitung ada nyaris 8,8 juta spesies di Bumi. Dari jumlah itu, 6,5 juta berada di daratan dan 2,2 juta di lautan.  Kerajaan hewan mendominasi dengan 7,8 juta spesies, fungi (jamur) sekitar 611.000 dan tanaman sekitar 300.000 spesies.

Jika benar ada 8,8 juta spesies, "Itu angka yang brutal," kata Direktur Eksekutif Ensiklopedi Kehidupan, Erick Mata. "Kita bisa menghabiskan waktu 400 sampai 500 tahun untuk mendokumentasikan spesies yang benar-benar hidup di planet kita," katanya. Bisa jadi, “orang pendek” adalah salah satu makhluk yang masih luput terdata itu. (np)(Sumber : VIVAnews.com)