Surau Tuo Tanahdatar dan Kincir Air
![]() |
| Pulau Belibis Kota Solok |
Tuesday, August 1, 2017
Thursday, March 31, 2016
Lukah Gilo
Bergerak Sendiri, Dikendalikan Secara Ghaib
Ada
begitu banyak tradisi dan kesenian yang dapat dipelajari dari negeri Indonesia
ini. Salah satunya yang cukup unik
adalah lukah gilo. Kesenian tersebut hampir ada di seluruh nagari
se-Minangkabau.
Hampir
semua masyarakat Minang sudah mengenal yang namanya lukah gilo. Kesenian
tersebut lazim ditampilkan dalam bentuk pengontrolan atau pengendalian lukah/ bubu
(alat penangkap ikan). Pada masyarakat Minangkabau, alat yang dijadikan obyek
permainan biasanya adalah lukah ikan berukuran besar, seukuran tubuh manusia dewasa.
Uniknya adalah mengenai bagaimana lukah tersebut dapat menari dan bergerak
sendiri dibacakan mantra oleh pawangnya.
Setelah sebelumnya median berbentuk tabung mengerucut kebawah, berdiameter rata-rata 2m X50cm lengkap dikasih baju, celana, kain sarung, kopiah, hingga mirip manusia. Sungguh permainan ini cukup menarik untuk
ditonton.
Kesenian
lukah gilo dapat dikatakan mirip dengan jalangkung. Terkadang ketika dipegang,
lukah akan melompat, jungkir balik, meronta, menari-nari sendiri tanpa sedikitpun digerakkan oleh seseorang. Melainkan pergerakan lukah biasanya dikendalikan secara ghaib, magik oleh pawang sesuai keinginan, setelah sebelumnya dibacakan mantra-mandra.
Mereka
yang ingin menikmati kesenian lukah gilo, tentu saja harus mengenal dan paham
terlebih dahulu mengenai lokasi dimana sering diadakan kesenian tersebut.
Memang benar kesenian tersebut diselenggarakan tidak hanya pada daerah Padang Panjang saja namun di
banyak daerah di Sumatera Barat memiliki permainan
lukah gilo.
Namun
yang paling umum adalah pada Kabupaten Tanah Datar. Daerah tersebut setidaknya
harus ditempuh dengan waktu 60 menit perjalanan dari arah Padang Panjang, dengan
jarak sekitar 38 kilometer. Akan lebih mudah bila dikunjungi dengan menggunakan
kendaraan pribadi.
Masyarakat Minang tentu saja sudah terbiasa untuk melakukan aktifitas tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah mengenai bagaimana seorang pengunjung bisa terlibat secara langsung dan bahkan belajar mantra dari sang pawang.
Masyarakat Minang tentu saja sudah terbiasa untuk melakukan aktifitas tersebut. Yang menjadi pertanyaan adalah mengenai bagaimana seorang pengunjung bisa terlibat secara langsung dan bahkan belajar mantra dari sang pawang.
Biasanya
para wisatawan akan disertakan dalam mengontrol lukah yang sudah diberi mantra.
Ada yang merasa takut dan ada yang merasa tertantang. Namun dalam menikmati
kesenian lukah gilo, tentu saja yang harus diperhatikan adalah mengenai
unsur kesenian dan juga kebudayaan itu sendiri. Apakah di nagari anda juga ada
lukah gilo ? (By: Rusdi Chaprian)
( Dikutip dari: http://www.pelangiholiday.com/2014/11/lukah-gilo-kesenian-tradisional-sumbar.html )
Thursday, March 24, 2016
Sujundai
Kali ini kami akan kembali membagikan sebuah pusako usang Minangkabau,
namanya adalah Sijundai. Sijundai dalam istilah yang mudah difahami adalah makluk halus pengirim
guna-guna. Akibat serangan sijundai, akhirnya prilaku manusia yang dituju segera
hilang kesadaran. Mulai dari tata cara bicara, tindakan diluar batas kesadaran
manusia.
Basijudai juga boleh dikatakan tindakan diluar batas kesadaran, korban
bisa menangis, tertawa, tanpa sebab tetapi bukan gila. Maka masyarakat Minangkabau
sejak dahulunya menyebutnya kanai sijundai.
Prilaku aneh sijundai biasanya menimpa anak gadis, ataupun anak
bujang, serta penyebabnya cenderung berkaitan erat dengan hubungan percintaan.
Baik karena hubungan tidak lancar atau kena tolak, dicaci dan diaki. Prilaku tersebut
muncul karena ditolak, dicaci, atau dikhianati seseorang hingga berujung dendam.
Dendam yang tak terbalaskan akhirnya dilampiaskan dengan cara ini.
Akibatnya orang yang mendapat kiriman sijundai baik bujang atau gadis akan
berperilaku seperti orang gila, menangis, tertawa sendiri, berteriak,
menarik-narik rambut, dan yang paling popular- memanjat dinding.
Pekerjaan ini biasanya dilakukan dukun, paranormal pada malam
hari. Bila dukun bisa mempengaruhi korbannya, maka korban akan berjalan menemui
dukun atau orang lain yang meminta dukun melakukan hal demikan. Di antara
isi mantra dukun itu berbunyi; “jika korban sedang tidur suruh ia bangun,
kalau sudah bangun suruh duduk, jika duduk suruh berjalan, berjalan untuk
menemui aku”, Penyakit magis yang juga disebabkan oleh serangan gasing
tangkurak ini lazim disebut Sijundai.
Secara sosial sijundai bekaitan dengan fenomena magic. Perkataan
yang terlalu menyakitkan, atau tersinggung juga menjadi pemicu kiriman sijundai
dari orang yang disakiti. Zaman yang serba modern ini, sijundai tidak akan
pernah lepas selaku tingkah laku yang tidak dijaga. Dala bahasa jawa kena
santet atau kena guna-guna Secara lanjut, sijundai ini menjadi penyakit yang
susah untuk disembuhkan, seakan-akan penyakit keturunan.
Biasanya keluarga yang kena sakit sijundai ini mendapat sangsi sosial
dalam masyarakat. Dalam hal perjodohan akan sulit mendapatkannya. Sebagai mana
dalam kiasan kuriak induaknyo rintiak
anaknyo.
Lain lagi penyebutan berbagai daerah terhadap ilmu ini, ada juga
gasing tangkurak, atau sirompak. Ilmu magis yang memanfaatkan gasiang tengkurak
untuk menimbulkan penyakit sijundai yang merupakan ilmu jahat yang dijalankan
melalui persekutuan dengan syetan. Ilmu ini beredar luas dan dikenal oleh
masyarakat di pedesaan Minangkabau pada umumnya.
Hal ini misalnya terlihat pada popularitas lagu Gasiang
Tangkurak ciptaan Syahrul Tarun Yusuf dinyanyikan oleh Elly Kasim,
seorang penyanyi Minang legendaris. Dalam lirik ini untuk mebalaskan dendam
maka dikrimlah sijundai. Gasiang tangkurak biasanya digunakan membalas dendam.
Ukuran harga yang lazim digunakan adalah emas. Sebagai syarat pengobatan,
biasanya dukun meminta emas dalam jumlah tertentu sebagai tanda, bukan upah.
Tanda ini akan dikembalikan jika sang dukun gagal dalam
menjalankan tugasnya. Tetapi kalau ia berhasil, maka uang tanda ini diambil,
dan pemesan harus menambahnya dengan uang jasa. Selain untuk menyakiti, ada
dukun tertentu yang menggunakan gasiang tangkurak untuk mengobati penyakit yang
disebabkan oleh hal-hal magis yang lainnya, gasiang sering juga dipakai sebagai
media untuk mensugesti orang lain menjadi tertarik pada diri kita. Ilmu
terakhir ini biasa disebut Pitunang.
Dalam sejarahnnya Jelas bahwa, (Marzam) manusia turut menggunakan jalan
yang singkat untuk memecahkan permasalahan mereka seperti yang terjadi terhadap
pemuda miskin yang dihina oleh perempuan cantik yang kaya yang juga
memperlihatkan keterbatasan akal dan fikiran manusia serta keyakinannya yang
kuat terhadap hal-hal yang supranatural dengan mengamalkan hal-hal yang magis.
Amalan ritual magis seperti ini menjadi popular di kalangan pemuda
yang menyatakan cintanya kepada seorang perempuan dan tidak dibalas dengan
baik, maka cintanya yang ditolak atau dihina membuatkan mereka berjumpa dan
meminta bantuan kekuatan ghaib. Baik sijundai, gasiang tangkurak, atau sirompak
merupakan ritual balas dendam kerena cinta yang tak sampai karena buruk rupa,
miskin, atau ken hina maupun cacian. (red)
*** Dikutip dari; http://www.rahmanvansupatra.my.id/2015/02/sijundai-ritual-magic-untuk-balas-dendam.html
***
Gasiang Tangkurak
Ampuh, Mematikan Musuh
Hampir setiap daerah di indonesia memiliki ilmu kebathinan, ilmu
magis yang khas, diimplementasikan lewat serangkaian ritual khusus. Di minangkabau juga ada ilmu magis, yaitu ‘Gasiang
Tangkurak’. Konon serangan Gasiang Tangkurak (gasing tengkorak) ala Minangkabau sangatlah ditakuti
hingga keberbagai pelosok negeri. Bagaimana kisahnya ?
Laporan— Pusako News
Kebetulan dalam menjalankan ilmu kebathinan ini harus menggunakan
median khusus, yakni kepingan tengkorak kepala mayat manusia. Masyarakat Minang Lazim menggunakan ilmu
tersebut untuk menyerang musuh secara
gaib, sekaligus ilmu tersebut juga bisa untuk tujuan lain seperti pengobatan.
Gasiang tangkurak bentuknya mirip dengan gasiang seng yang pipih, Cuma saja
bahannya dari tengkorak manusia. Gasiang seperti ini hanya bisa dimainkan oleh dukun, orang yang memiliki kemampuan magis. Sambil memutar gasiang, dukun membacakan jampi-jampi/ mantra. Pada saat yang sama, orang yang menjadi sasaran akan merasakan sakit, gelisah dan melakukan tindakan layaknya orang sakit jiwa.
Misalnya, berteriak-teriak, menarik-narik rambut, dan yang paling popular- memanjat dinding. Pekerjaan ini biasanya dilakukan pada malam hari. Bila dukun bisa mempengaruhi korbannya, maka korban akan berjalan menemui dukun atau orang lain yang meminta dukun melakukan hal demikan. Di antara isi mantra dukun itu berbunyi, jika korban sedang tidur suruh ia bangun, kalau sudah bangun suruh duduk, jika duduk suruh berjalan, berjalan untuk menemui seseorang, Penyakit magis yang disebabkan oleh gasing tangkurak ini lazim disebut Sijundai.
Ilmu magis yang memanfaatkan gasiang tingkurak untuk menimbulkan penyakit sijundai yang merupakan ilmu jahat yang dijalankan melalui persekutuan dengan syetan. Ilmu ini beredar luas dan dikenal oleh masyarakat di pedesaan Minangkabau pada umumnya. Hal ini misalnya terlihat pada popularitas lagu Gasiang Tangkurak ciptaan Syahrul Tarun Yusuf dinyanyikan oleh Elly Kasim, seorang penyanyi Minang legendaris.
Gasiang tangkurak biasanya digunakan membalas dendam. Seseorang datang kepada sang dukun untuk menyakiti seseorang dengan sejumlah bayaran. Ukuran harga yang lazim digunakan adalah emas. Sebagai syarat pengobatan, biasanya dukun meminta emas dalam jumlah tertentu sebagai tanda, bukan upah. Tanda ini akan dikembalikan jika sang dukun gagal dalam menjalankan tugasnya. Tetapi kalau ia berhasil, maka uang tanda ini diambil, dan pemesan harus menambahnya dengan uang jasa.
Selain untuk menyakiti, ada dukun tertentu yang menggunakan gasiang tangkurak untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh hal-hal magis. Yang lainnya, gasiang sering juga dipakai sebagai media untuk mensugesti orang lain menjadi tertarik pada diri kita. Ilmu terakhir ini biasa disebut Pitunang.
Sesuai dengan namanya, bahan utama gasiang tangkurak adalah tengkorak manusia yang sudah meninggal. Gasiang ini hanya bisa dibuat oleh orang yang memiliki ilmu batin tertentu. Pada berbagai daerah terdapat beberapa perbedaan menyangkut bahan tengkorak yang lazim dan paling baik digunakan sebagai bahan pembuat gasing tangkurak. Pada beberapa daerah, tengkorak yang biasa digunakan adalah tengkorak dari seseorang yang mati berdarah.
Daerah yang lain lebih menyukai tengkorak dari orang yang memiliki ilmu batin yang tinggi khususnya untuk pengobatan, sedangkan daerah yang lain lagi percaya bahwa tengkorak dari wanita yang meninggal pada saat melahirkan merupakan bahan paling baik. Bahkan pada daerah tertentu, seorang informan menyebutkan bahwa tengkorak yang paling baik adalah tengkorak anak-anak yang telah disiapkan sejak kecil. Anak itu dibawa ke tempat yang sunyi, kemudian dipancung. Tengkorak yang masih berdarah itulah yang dijadikan bahan untuk gasiang tengkorak.
Bagian tengkorak yang digunakan adalah pada bagian jidat. Pada hari mayat dikuburkan, dukun pembuat mendatangi kuburan, menggali kubur dan mayatnya dilarikan. Tengkorak yang diambil adalah pada bagian jidat, karena dipercaya pada bagian inilah terletak kekuatan magis manusia yang meninggal. Ukuran tengkorak yang diambil tidak terlalu besar, kira-kira 2 X 4 cm. Saat mengambil tengkorak mayat, dukun membaca mantra khusus sambil menyebut nama si mayat.
Setelah diambil, jidat itu dilubangi dua buah di bagian tengahnya. Saat terbaik untuk membuat lobang adalah pada saat ada orang yang meninggal di kampung tempat pembuat gasiang berdomisili. Saat demikian dipercaya akan memperkuat daya magis gasiang. Kemudian pada kedua lubang itu dimasukkan benang pincono, atau benang tujuh ragam. Gasiang dan benang itu kemudian diperlakukan secara khusus sambil memantra-mantrainya. Gasiang itulah kemudian yang digunakan untuk menyakiti orang.
Ada lagi jenis gasiang lain, yang fungsinya hampir sama dengan gasiang tingkurak. Gasiang ini terbuat dari limau puruik ( Citrus hystrix ) dari jenis yang jantan dan agak besar. Pada limau itu dibacai mantra-mantra. Limau purut ditaruh di atas batu besar, kemudian dihimpit dengan batu besar yang lain. Batu itu sebaiknya berada di tempat terbuka yang disinari cahaya matahari sejak pagi hingga petang. Sebelum dihimpit dengan batu, dibacakan mantra. Limau dibiarkan hingga kering benar, setelah itu baru dibuat lobang ditengahnya. Ke dalam lobang itu digunakan banang pincono, atau benang tujuh warna.
Gasiang jenis ini biasanya dipakai untuk masalah muda-muda dan pengobatan. Pemakaian gasiang ini menggunakan perhitungan waktu tertentu yang didasarkan pada pembagian waktu takwim. Untuk kepentingan muda-mudi, waktu yang lazim dipakai adalah waktu Zahrah, sedangkan untuk pengobatan dilakukan pada waktu Syamsu. Untuk tujuan baik, tidak ada pantangan saat menggunakan gasiang. Tetapi untuk hal yang jahat, maka pengguna harus menghindari seluruh hal yang berkaitan dengan jalan Tuhan harus dihindari. (Red)
(Dikutip dari: http://www.indospiritual.com/artikel_mengenal-gasiang-tangkurak-ilmu-magis-asal-minangkabau.html#sthash.M5pBnnWx.dpuf)
Subscribe to:
Posts (Atom)



